Saya ingin mengaku kepada anda dengan sebuah maksiat yang telah saya lakukan. Saya akan menyampaikannya kepada anda, agar anda bisa membantu saya dan mengeluarkan saya dari perkara yang membelit saya. Saya telah menikah beberapa tahun lalu dengan seorang laki-laki yang banyak tersibukkan dari saya, serta tidak perhatian kepada saya sama sekali. Dia sering bertindak kasar dengan saya. Disinilah jalan saya bersama setan dimulai. Saya berkenalan dengan seorang laki2. Saya banyak berbicara dengan dia melalui HP, kemudian hubungan itupun berkembang hingga saya bertemu dengannya di tempat umum. Akan tetapi kala itu saya kembali kepada akal saya, dan memutuskan untuk meninggalkan lelaki itu, dan memurnikan diri untuk suami saya. Sungguh, saya jujur dalam meninggalkannya. Tetapi saya mendapati penyia-nyiaan suami terhadap saya. Dia terus menghalangi  hak-hak saya secara syar’i. Pada suatu kali saat dia pergi, aku menghubungi laki2 itu setelah hubungan terputus selama delapan bulan. Maka diapun menyambut saya dengan penuh kerinduan, dia mulai bertanya tentang saya, dan keadaan saya. Saya pun merasa diperhatikannya. Dia meminta untuk menemui saya, dan saya pun setuju tanpa ragu2, seakan-akan saya ingin membalas suami saya.

Kami pun bertemu dan melakukan perbuatan keji pada malam itu, wal’iyadzu billah. Disaat saya kembali ke rumah, saya merasa bahwa saya berdosa, akan tetapi saya berusaha untuk melupakan yang telah terjadi. Beberapa waktu berikutnya, saya pergi ke rumah sakit yang jauh untuk meyakinkan diriku. Maka tersingkaplah musibah, bahwa saya sedang hamil. Maka jadilah kehidupan saya menjadi hitam. Saya menyembunyikan perkara itu dari seluruh manusia. Beberapa waktu setelahnya, suami saya pulang dari bepergian. Saat saya menyambutnya, saya tidak menyambutnya seperti setiap kali dia datang, pada kali itu saya merasa benci dengannya, saya menangisi diri saya, dan saya katakan di dalam diri saya, ‘Engkaulah penyebabnya, engkaulah yang telah menyia-nyiakanku, dan engkaulah yang telah menyampaikan aku kepada musibah ini.’

Pada malam itu, karena kerasnya tangisan saya yang membuat suami saya keheranan, saya jatuh pingsan. Lalu suami saya membawa ke rumah sakit. Di sanalah terjadi perkara yang mengagetkan, dimana mereka memberi tahukan kepadanya, bahwa saya sedang hamil pada bulan yang ketiga. Maka suami saya pun sangat bergembira dengan kehamilan saya. Di mana safar dia yang terakhir adalah kurang lebih pada masa itu. Lalu dia yang malang itu menyangka bahwa saya hamil darinya. Lalu dia mengembalikan saya ke rumah, dan sekarang menjadi orang yang sangat perhatian dengan saya, serta memenuhi segala permintaan saya, dan tidak seperti sebelumnya.

Sesungguhnya saya kebingungan, saya mulai berpikir untuk menggugurkan kandungan, karena saya akan melahirkan seorang anak zina, sebagaimana saya akan melahirkan seorang anak yang tidak memiliki hubungan dengan suami saya. Saya juga telah berpikir untuk bercerai dan menikah denganlelaki itu, karena yang ada di dalam perut saya adalah anaknya. Sungguh jiwa saya telah hancur, maka saya berharap kepada anda untuk membantu saya, dan meringankan beban hati saya, serta menasehati saya.

————————

Jawab:

Ukhti, betapa kedukaan menguasai saya. demi Allah hati saya benar2 bersedih, kedua mata saya benar2 mengalirkan air mata saat saya membaca kisah anda ini.

Mengapa wahai wanita mukminah, Anda menuruti nafsu anda yang memerintah kepada keburukan? Mengapa anda berjalan di jalan kekejian? Mengapa anda memenuhi ajakan2 setan dan mengikuti langkah2nya? Tidakkah anda membaca firman-Nya:

“Hai orang2 yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah2 syaithan. Barangsiapa yang mengikuti langkah2 syaithan, maka sesungguhnya syaithan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar.” (QS: An Nur: 21).

Dimana rasa malu anda? Dimana akal anda? Dimana kehormatan rumah tangga anda? Dimana nama baik keluarga anda? Bahkan dimana Allah dari anda? Sungguh anda telah melewati batas2-Nya. Di manakah Dia? Sungguh anda telah membuat hubungan yang tidak syar’i. Maka apakah kehormatan dan nama baik seorang wanita menjadi murah seperti ini? Bukankah dengan tingkatan ini, kemuliaan itu menjadi ditawarkan dengan harga yang paling rendah? Bukankah kondisi itu telah sampai pada dibayarnya kehormatan dengan harga murah dan hina?

Sebenarnya anda tidaklah membalas suami anda sebagaimana anda sangka, akan tetapi anda telah membalas diri anda sendiri.

Wajib bagi anda untuk mengetahui, wahai saudariku, bahwa terjadinya permasalahan pada pasangan suami istri, atau kezhaliman yang terjadi dari suami, bukanlah satu alasan untuk melakukan yang diharamkan.

Disini saya tidak melepaskan kesalahan suami anda, bahkan dia turut serta memberi andil bersama anda. Dan barangkali apa yang telah terjadi adalah sebagai hukuman dari Allah Azza wa Jalla atasnya.

Sekalipun demikian, bukanlah terjerumusnya ke dalam dosa adalah selesainya dunia ini. Anda, sebagaimana saya pahami, telah bertaubat kepada Allah -kami memohon kepada Allah agar menerima taubat kita dan anda- dan ini adalah kewajiban anda, dan itu adalah rahmat Allah Tabaraka wa Ta’ala yang memberikan taufiq kepada anda untuk bertaubat.

Saya akan memberikan peringatan kepada anda terhadap perkara penting, yaitu:

Hendaknya anda memikirkan tentang penyebab kejadian yang sekarang anda alami. Segala sesuatu memiliki sebab. Renungkanlah langkah pertama yang mendorong anda kepada akibat yang menyakitkan ini agar anda bisa mengambil faidah darinya. Apakah karena menganggap remeh berbicara dengan laki-laki asing? Atau karena meremehkan pemakaian hijab yang syar’i? Ataukah karena jauh dari teman-teman yang shalihah? Ataukah karena siaran parabola? Atau juga karena website2 di internet? Atau karena kemalasan dalam menunaikan kewajiban2? Atau juga karena jauh dari lingkungan keluarga? Ataukah karena ikhtilat (campur baur laki2 dan perempuan)? Atau karena semuanya?

Saya memohon taubat yang ikhlas kepada Allah untuk kami dan untuk anda karena mencari wajah-Nya yang Maha Mulia.

Adapun berkenaan dengan masalah anak, maka jika usia kehamilan telah sampai pada fase ini, maka tidak boleh menggugurkannya. Jika anda melakukannya, maka anda telah mengumpulkan dua dosa besar sekaligus; zina dan membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haknya.

Perceraian anda dari suami, dan menikahnya anda dengan laki2 itu, maka itu bukanlah solusi dari permasalahan tersebut. Karena anak zina tidak dikaitkan atau dinisbatkan kepada bapaknya dan tidak dinasabkan kepadanya. Kemudian bukankah ada masa iddah setelah talak (ket: iddah untuk wanita hamil adalah sampai melahirkan), ataukah anda akan menikah pada hari perceraian itu juga? Jadi ini bukanlah solusi sebagaimana mustahil seseorang itu membuat ikatan dengan seorang wanita yang dalam pandangannya dia adalah seorang pengkhianat.

Sekalipun apa yang telah anda lakukan adalah sebuah musibah besar, dan kejahatan yang membawa malapetaka, tetapi anak yang akan datang akan menjadi anak bagi suami anda sekalipun aslinya dari hasil zina. Seorang anak yang dikandung oleh seorang wanita yang bersuami adalah miliki suaminya, sekalipun sang wanita telah berzina dengan laki2 lain. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam:

“Anak milik yang punya kasur (maksudnya adalah suami), dan bagi pezina adalah tangan hampa (menurut satu pendapat: batu rajam). [HR: Muttafaqun alaih].

Dan wajib bagi anada adalah menutupi diri anda dengan tabir Allah Azza wa Jalla. Segera bertaubat dari dosa ini, dan taubat tidak akan terealisasi kecuali dengan segera meninggalkan dosa, menyesali apa yang telah terdahulu, serta bertekad bulat untuk tidak kembali kepada dosa itu selamanya.

Saya memohon kepada Allah untuk mengeluarkan kesusahan, kecemasan, dan kegundahan anda, serta mengampuni dosa anda dan menerima taubat anda.

Menjaga Hak Suami

Posted: April 12, 2014 in Muslimah

Istri idaman menyadari besarnya hak suami atas dirinya, dan ia bersungguh-sungguh untuk menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Dalam hadits digambarkan hak suami:

“Andaikan aku diperkenankan untuk memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan para wanita untuk sujud kepada suami mereka. Dikarenakan hak para suami yang telah Allah tetapkan atas para istri mereka”. (HR. Abu Dawud dari Qais bin Sa’ad, dan dinyatakan sahih oleh al-Albany).

Berikut hak-hak yang perlu diperhatikan:

- Tidak boleh menolak apabila suami mengajak untuk berhubungan intim, baik dengan kata-kata maupun dengan tindak-tanduk.
- Wajib mentaati suami, mendahulukan perintahnya atas perintah orang lain, selama perintah tersebut bukan berupa maksiat kepada Allah.
- Menjaga kehormatan diri, apalagi manakala suami sedang tidak ada di rumah.
Janganlah berpuasa sunnah, kecuali dengan seizinnya. Hal itu demi menjaga hak suami, berupa hubungan intim.

“Tidak halal bagi seorang istri untuk berpuasa dalam keadaan suaminya ada, melainkan dengan izin darinya. Dan janganlah ia mengizinkan seorangpun masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan izin darinya”. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

- Tidak menyebarkan hubungan intim yang terjadi antara suami istri. Itu sama saja dengan membuka aurat dan merobek tirai hubungan suami istri yang suci. Dalam hadits digambarkan perumpamaan orang yang melakukan itu,

“Sungguh perumpamaan perbuatan tersebut seperti setan laki-laki yang bertemu dengan setan perempuan di jalan, lalu menunaikan hajat biologisnya di situ, dan orang-orang melihatnya ”. HR. Ahmad dari Asma’ bintu Yazid dan dinilai dha’if oleh al-Albany.

Mensyukuri suami

Sedikit para istri yang memiliki sifat mulia ini. Banyak wanita yang kurang pandai membaca kelebihan yang ada pada diri suaminya, sehingga kekuranganlah yang selalu tampak di hadapan matanya. Sebaliknya mereka gemar mencari-cari kekurangan suaminya, sehingga segala kelebihan yang ada tidak berarti baginya. Saudariku, jauhilah sifat seperti ini!

Kita tentu tahu, bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang sempurna. Sesungguhnya kesempurnaan itu hanyalah milik Allah ta’ala. Maka demikian juga, di dunia ini tidak ada suami yang sempurna. Sebanyak apapun kelebihan yang ada pada suami kita, kekurangan pastilah ada. Dan sebanyak apapun kekurangan yang ada pada diri suami kita, tetap saja ia memiliki kelebihan. Lihatlah keistimewaan yang telah Allah anugerahkan kepada suamimu dan ucapkanlah Alhamdulillah! Ketahuilah, masih banyak wanita-wanita yang suami mereka tidak memiliki keistimewaan seperti itu.

Dan apabila suamimu memiliki kekurangan, ingatlah bahwa dirimu juga punya kekurangan. Alangkah indahnya apabila kekurangan yang ada pada masing-masing pihak dapat ditutupi oleh pasangannya.

Jangan suka membanding-bandingkan suamimu dengan suami orang lain. Karena hal itu akan menyakiti hatinya dan sama sekali tidak bermanfaat bagi dirimu sendiri. Dan bisa saja ia melakukan hal yang sama terhadap dirimu.
Wanita yang tidak mensyukuri kebaikan suaminya adalah wanita calon penghuni neraka. Rasululullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“Aku pernah diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Mereka kufur!. “Apakah maksudnya mereka kufur kepada Allah?” tanya seseorang. “Mereka kufur terhadap suami dan kebaikannya. Andaikan engkau telah berbuat baik padanya sepanjang masa, lalu suatu saat ia merasa sesuatu yang tidak enak, maka ia akan berkata, “Aku tak pernah merasakan kebaikan sedikitpun!” jawab beliau. (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma).

Membantu suami dalam urusan dunia dan akhirat.

Maksudnya adalah: siap memberikan dukungan bagi suami dalam melaksanakan segala tanggung jawab. Baik berkaitan dengan masalah duniawi seperti mencari nafkah, maupun tugas-tugas lainnya. Siap membantu baik secara lahiriyah, dengan harta ataupun tenaga. Demikian juga bantuan dalam bentuk dukungan mental, saran maupun nasehat.

Jadilah Engkau seperti Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu’anha. Beliau adalah sosok teladan bagi segenap istri yang salihah. Bagaimana sepak terjang beliau dalam memberi bantuan dan dukungan, baik moril maupun materil, bagi suami tercinta; Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Beliau menginfakkan hartanya demi perjuangan dakwah Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah sosok yang tegar, yang senantiasa memberikan motivasi, dukungan dan perlindungan bagi dakwah sang suami.

Lihatlah bagaimana ibunda kita Khadijah radhiyallahu’anha menghibur suaminya; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam yang ketakutan dan merasa khawatir tatkala wahyu turun pertama kali pada beliau. Khadijah berkata, “Demi Allah tidak mungkin! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak heran jika kemudian Khadijah radhiyallahu’anha mendapat kedudukan yang amat istimewa di hati Rasul shallallahu’alaihiwasallam.
Istri yang salihah akan senantiasa membantu suami dalam menaati Allah ta’ala. Keduanya saling bahu membahu untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya. Alangkah indahnya jika hadits nabawi berikut diterapkan dalam rumah tangga kita:

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Bila si istri enggan, ia memercikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati pula seorang istri yang bangun di malam hari untuk melakukan shalat malam, lalu membangunkan suaminya. Bila si suami enggan, ia memercikkan air ke wajah suaminya”. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Al-Hakim, Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban menilainya sahih).

Menghiasi diri dengan akhlak mulia.

Istri idaman adalah istri yang terkumpul pada dirinya berbagai macam akhlak yang mulia. Sehingga ia benar-benar menjadi penebar kedamaian dan aroma semerbak wangi di segenap sudut rumahnya. Dialah perhiasan dunia yang sebenarnya. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salihah”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma.
Apa kriteria wanita salihah? Dalam hadits lain disebutkan:

“Istri yang salihah, adalah yang jika dilihat suaminya maka akan menyenangkan, jika diperintah akan menurut dan jika ditinggal akan menjaganya”. (HR. Abu Dawud dan dinyatakan sahih oleh al-Hakim. Sedangkan al-Albany menilainya lemah).

Istri idaman itu lembut tutur katanya, santun bicaranya, tidak banyak mengeluh manakala ada permasalahan serta tidak menyebut-nyebut setiap kebaikan dan pekerjaan yang telah dilakukannya.

Istri idaman itu sopan perilakunya, sabar pembawaannya, sayang terhadap suami dan anak-anaknya, tidak banyak menuntut secara berlebihan kepada suaminya.

Istri idaman itu selalu menyambut kedatangan suaminya dengan penuh kehangatan, kata-kata yang manis dan wajah berseri-seri. Pandai memberikan kesan bahwa dia selalu merindukannya, hingga ia menjadi magnet yang bisa menarik hati suami dan membuatnya betah di rumah. Sehingga ia merasa seolah tidak mendapatkan kenyamanan itu kecuali dalam rumahnya.

Istri idaman selain berusaha memperbaiki akhlaknya, ia juga selalu berusaha menjaga penampilan lahiriahnya. Kebersihan tubuh dan pakaiannya, kerapian rambutnya, keindahan dandanannya dan keelokan tubuhnya.

Pendek kata, istri idaman adalah istri yang cantik lahir dan batin, luar dan dalam. Demikian keterangan dalam kitab ‘Aun al-Ma’bûd. Selamat mempraktekkannya!

Terampil dan cekatan

Ketahuilah wahai saudariku, bahwa di belakang pria hebat tentu berdiri seorang istri yang hebat pula. Seorang lelaki yang sukses dalam pekerjaannya pasti merasakan suasana yang mendorongnya kepada kesuksesan tersebut. Suasana kondusif untuk meraih kesuksesan itu adalah rumah yang tenang yang dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang, serta istri yang senantiasa menjadi pendamping setia dan penolongnya.

Membuka di hadapannya sejuta asa dalam menghadapi berbagai tugas dan pekerjaannya. Menyiapkan suasana tenang baginya sehingga ia bergairah untuk mengerjakan amal salih yang membuahkan hasil. Seorang istri yang sanggup menjadi pendamping di depan maupun di belakang.

Ia terampil mengurus rumah, terampil mengurus anak, pandai memancing selera suami dengan masakannya, dan bahkan ia juga siap membantu tugas suami jika diperlukan.

Jika Anda menginginkan suamimu sukses, maka janganlah berlaku berantakan dalam tugas-tugas rumah. Seorang istri tertuntut untuk memiliki manajemen prima.

Bayangkan! Bila setiap pagi dan petang semua barang dalam rumah tidak berada pada tempatnya. Alat-alat dapur berserakan, kamar tidur berantakan, ruang keluarga dipenuhi mainan anak, baju-baju bertumpuk di atas tempat tidur, ditambah lagi bau seprei yang menusuk hidung. Dalam keadaan seperti ini mungkinkah suamimu berpeluang meraih kesuksesan?

Mengurus pekerjaan rumah adalah tugas mulia seorang istri. Setinggi apapun gelar wanita namun di tengah keluarga dia tetap harus pandai memasak, cekatan mempersiapkan berbagai makanan dan minuman serta seni menghidangkan jamuan. Jika wanita mencari kesenangan sendiri sehingga suami yang harus menangani pekerjaan rumah tangga maka ini dikategorikan kemungkaran dan perbuatan zalim.

Bibi al-Hushain bin Mihshan mengisahkan, bahwa suatu saat Nabi shallallahu’alaihi wasallam bertanya tentang sikapnya terhadap suaminya. Dia menjawab, “Saya berusaha semaksimal mungkin untuk melayaninya kecuali manakala tidak mampu”. Maka beliaupun menimpali,

“Lihatlah bagaimana kedudukanmu di matanya. Sesungguhnya dia adalah surgamu dan nerakamu”. (HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahaby).

Memahami kondisi kejiwaan suami

Sangat penting bagi seorang istri untuk memahami kondisi kejiwaan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sehingga hal itu dapat membantunya dalam memilih sikap yang paling tepat dalam berinteraksi dengan mereka. Serta dapat menghindari sikap-sikap yang menyusahkan mereka juga perbuatan yang membuat mereka kesal.

Dan orang pertama yang harus Engkau pahami kondisi kejiwaannya adalah suamimu. Karena ia hidup bersamamu dan berbagi kehidupan denganmu. Kerahkanlah segala kemampuanmu untuk mengetahui kondisi kejiwaannya. Apakah ia sedang gembira, bersedih, bingung atau sedang banyak masalah dan seterusnya. Sebab apabila hal ini tidak Engkau perhatikan, niscaya akan berakibat buruk bagi dirimu dan juga suamimu. Karena kesalahanmu dalam bersikap akan membawa akibat yang fatal.

Sebagai contoh, andaikan suamimu dalam keadaan bergembira. Tetapi karena tidak faham, Engkau rusak kegembiraannya itu dengan sikapmu yang dingin. Atau suamimu sedang menghadapi masalah. Tetapi karena tidak faham, justru Engkau semakin membuatnya pusing dengan menyuguhkan berbagai keluhan dan tuntutan. Atau suamimu sedang bersedih, namun Engkau sama sekali tidak menunjukkan keprihatinanmu terhadap kesedihannya. Tentu saja sikap-sikap seperti ini tidaklah tepat dan akan membawa keburukan. Karena itu sangat penting bagimu untuk mengetahui kondisi kejiwaan suamimu sehingga Engkau bisa bersikap yang sebaiknya.

Contohlah ibunda kita; Aisyah radhiyallahu’anha yang begitu peka dengan perasaan suaminya tercinta; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dalam Shahih Bukhari diceritakan bahwa Aisyah hanya dengan melihat perubahan raut muka suaminya, beliau paham bahwa suaminya sedang tidak nyaman perasaannya. Bagaimana dengan Anda?

Di antara bentuk kelalaian istri dalam memperhatikan keadaan dan perasaan suami adalah lalai memperhatikan waktu tidur, makan, membaca buku dan lainnya.

Terkadang istri mulai membersihkan rumah, menyapu, atau memberantas serangga ketika suami sudah tiba di rumah atau ingin tidur atau makan. Hal itu menyebabkan hiruk-pikuk dan menjadikan hidung suami bersin akibat bau yang tidak sedap atau debu yang beterbangan. Pekerjaan-pekerjaan semacam ini telah melalaikan hak suami dan merupakan pertanda kebodohan, kelemahan akal dan kurang perasaan.[7] Berhati-hatilah!

Pengertian terhadap kondisi keuangan dan ekonomi suami.

Salah satu problematika yang kerap kali menghadang kehidupan rumah tangga adalah masalah keuangan. Sebab rezeki orang tentu berbeda-beda. Ada suami yang berkecukupan atau bahkan berlebih. Namun ada juga yang suami yang pas-pasan atau bahkan serba kekurangan.
Istri idaman adalah seorang istri yang senantiasa menghiasi dirinya dengan sifat qana’ah (nrimo). Sesungguhnya qana’ah adalah perbendaharaan yang tak kunjung habis. Karena itu hiasilah dirimu dengan sifat tersebut, niscaya engkau akan dapat menikmati kehidupan rumah tangga bersama suamimu. Ingatlah selalu sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,

“Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu; seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya”.( HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh al-Albani).

Istri idaman adalah istri yang pandai mengatur keuangan. Memiliki manajemen yang dapat diandalkan. Hemat namun bukan pelit. Berhematlah, sesungguhnya manusia tidak akan pernah merasa puas dengan kebutuhan duniawinya. Seperti orang yang meminum air laut, semakin banyak ia minum maka ia semakin merasa haus dan dahaga.

Lawan dari hemat adalah boros. Yaitu melewati batas sewajarnya. Dan ini tercela dalam banyak ayat. Antara lain dalam QS. Al-Isrâ’: 27.
Berhematlah, meskipun engkau seorang yang kaya. Sebab orang kaya hari ini bisa saja berubah kondisinya pada esok hari. Sikap boros akan mengakibatkan tersia-siakannya harta dan mendapat siksa di akhirat. Sedangkan sikap hemat dan pertengahan dalam membelanjakan harta selain merupakan sebab yang bisa membahagiakan suami, juga merupakan ibadah kepada Allah.

Tapi, tentu saja seorang istri tidak boleh terlalu berhemat, sehingga cenderung pelit, lalu bisa mengganggu kesehatan keluarga.
Terakhir, ingatlah selalu, kebahagiaan bukan hanya terletak pada harta semata. Berapa banyak wanita yang memiliki suami kaya hartanya namun pelit perasaan dan cintanya. Sementara yang lain memiliki suami yang fakir hartanya, namun kaya perasaan dan cinta kepada istri dan rumah tangganya. Camkanlah…

Siap mendampingi suami dalam suka maupun duka

Sudah merupakan sunnatullah, bahwa kehidupan dunia, termasuk bahtera rumah tangga, tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya serta mati dan hidup. Ibarat roda, kadang di atas dan kadang di bawah. Suatu kondisi yang tidak mungkin dihindari oleh setiap insan, suami maupun istri.

Seorang istri salihah akan senantiasa meliputi suaminya dengan cinta dan doa. Lisannya ringan untuk memanjatkan doa demi kebaikan suaminya. Dan kehadiran istri salihah di sisi suaminya senantiasa membawa kebaikan. Di saat suami dalam keadaan suka, istri hadir di sisinya sebagai penambah rasa bahagia. Sebagaimana kehadiran para istri Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang membahagiakan beliau.

Sebaliknya, di saat suami duka, istri hadir sebagai penghibur dan penguat hatinya. Semangat dan harapannya yang mulai pupus dapat dibangkitkan kembali oleh istri salihah yang hadir di sisinya. Ia mampu membuka sejuta asa di hadapan mata suaminya, dan menyulut kembali api semangat dalam hatinya.

Dalam hal ini kita memiliki teladan yaitu istri-istri Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Ketika beliau mendapatkan wahyu, hingga beliau ketakutan, maka Ummul mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha menghiburnya. Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan kejadian itu,

“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kembali dengan membawa firman Allah tersebut dalam keadaan hatinya takut. Beliau langsung menemui Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu’anha seraya berkata, “Selimutilah aku, selimutilah aku!”. Maka Khadijah pun menyelimuti beliau hingga hilanglah rasa takutnya. Lalu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan peristiwa yang barusan dialaminya. “Aku mengkhawatirkan keselamatan diriku” kata beliau. Khadijahpun memotivasi beliau,

“Demi Allah tidak mungkin! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah”. (HR. Bukhari (hal. 2 no. 3) dan Muslim (II/376 no. 401).

Pandai menempatkan diri dalam keluarga besarnya dan keluarga besar suaminya.

Posisi seorang wanita setelah menikah tentu berbeda dengan posisinya sebelum ia menikah. Sebelum menikah, kedua orang tua adalah orang pertama yang harus ia taati dan ia perhatikan. Adapun setelah menikah, suamilah orang pertama yang harus ia taati dan ia perhatikan. Ia telah memulai masuk keluarga baru yang dibina bersama suaminya. Masalah ini harus dipahami oleh seluruh pihak.

Kedua orang tua hendaknya memberikan kesempatan kepada kedua putra-putrinya yang sedang belajar menjadi seorang ayah dan seorang ibu. Ibarat anak kecil yang sedang belajar berjalan, kadang jatuh dan bangun. Itulah fase untuk mengasah kedewasaan dan kemandirian mereka. Jangan terlalu berlebihan dalam mencampuri urusan rumah tangga mereka. Sebab justru seringkali hal tersebut akan memicu berbagai macam permasalahan dalam rumah tangga mereka.

Engkau sebagai istri, ketahuilah bahwa bergantung secara berlebihan kepada ayah-ibumu juga kakak-kakakmu dalam setiap masalah rumah tangga, yang besar maupun kecil, itu menunjukkan ketidakmatangan kepribadianmu. Itu juga bukti bahwa Engkau belum siap untuk menjadi seorang istri, apalagi seorang ibu.

Namun tidak berarti, Engkau harus memutuskan hubungan dengan orang tuamu. Justru jalinlah tali silaturrahmi dalam batas-batas yang wajar, khususnya di awal-awal kehidupan rumah tanggamu.

Seni berinteraksi dengan keluarga suami

Ketahuilah, kepintaranmu bergaul dengan mertua dan kerabat suamimu merupakan nilai tambah bagimu di mata suamimu.
Bergaullah dengan mertuamu sebaik-baiknya dan hormati mereka, sebagaimana Engkau menghormati kedua orang tuamu. Sebab merekalah yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan suamimu hingga ia menjadi seorang pria yang memikat hatimu.

Perlu disadari, sebagaimana tidak ada di dunia ini suami yang sempurna, begitu pula tidak ada mertua yang sempurna. Karena adanya karakter yang kurang mengenakkan dalam diri mertua, terkadang terjadi percekcokan. Adalah kurang bijak jika kemudian istri memberikan ultimatum kepada suaminya untuk memilih antara dia atau keluarganya.

Justru dalam berinteraksi dengan mereka, kedepankanlah kesabaran dan kelembutan. Lupakan kesalahan mereka dan maafkan mereka. Intinya, berlaku baiklah, karena mereka adalah manusia yang bisa merasakan kebaikan dan ketulusan.

Kesabaranmu dalam bergaul dengan mereka insyaAllah akan mendatangkan pahala dari Allah ta’ala dan keridhaan suamimu. Semoga Anda sukses menjadi istri idaman, amin…

Kemajuan teknologi di zaman ini membuat orang mudah mendapatkan berita dan mengakses ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan fasilitas di dunia maya melalui berbagai situs dan blog dan ditunjang dengan jejaring sosial di dunia maya seperti fecebook, twitter, google. Kita patut mensyukuri hal ini, sehingga mereka yang agak susah mengakses ilmu dan menghadiri majelis ilmu bisa memperoleh ilmu agama terutama yang wajib dipelajari. Seperti tempat yang jarang ada majelis ilmu dan bagi wanita yang memang dianjurkan lebih banyak berdiam diri di rumah sesuai kodratnya. Baca Selanjutnya