Mencuci Kaki Ibu Kemudian Meminum Airnya. Apakah Ajaran Dalam Islam?

Posted: August 1, 2013 in Aqidah
Mencuci Kaki Ibu, Kemudian Meminum Airnya, Apakah Ajaran Islam ?1016629_10201330561216578_617507082_n
Sebelumnya mari kita simak dua artikel dibawah ini yg tersebar luas di lelaman web.

Artikel pertama seperti berikut:

Kepada agan2ku sekalian. Mohon maaf, mau share.Kenapa kita (sebaiknya) meminum air-cucian-kaki-IBU kita masing2 ?.Hal ini, (kalau) kita lakukan; adalah se-mata2 sebagai salah satu carakita membuktikan bahwa kita memang benar2 hormat kepada beliau.Dan sekaligus juga sebagai tanda……………….tanda apa?……………tanda bahwa kita tidak mungkin membalas semua jasa2 beliaukepada kita.

Jangan salah persepsi gan. Kita TIDAK menuhankan beliau. Tetapi ingat gan……tanpa (perantaraan) beliau, maka kita tidak(akan) pernah ada di bumi ini. Dan ingat……sampai kapanpun;……serta kehebatan apapun yang kita “kuasai”, sekarang maupun nanti,…………………………………….kita tidak (akan) pernah bisa membalas jasa2 beliau kpd kita.Oleh sebab itu……………..terutama kpd agan2 yg masih ada IBU;…..Dan mumpung masih ada KESEMPATAN beliau masih hidup……………..Minumlah air-cucian-kaki-IBU.Kalau kita secara terang2an meminta kesediaan beliau sebelumnya,maka mungkin beliau akan merasa risih; atau bahkan mungkin merasa berkeberatan.
Catatan khusus bagi agan muslim = Setelah NIAT, maka lafadz-nya cukup : BASMALAH, SYAHADATAIN dan SHALAWAT.

Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?p=171429444. (Originally Posted by rarhsa Selasa, 22 Desember 2009 11:39 WITABANJARMASIN, SELASA)

Artikel yang kedua:

Memperingati Hari Ibu 2009, puluhan murid Taman Kanak-kanak Harapan Ibu, melakukan prosesi mencuci kaki ibu mereka di halaman TK. Selasa (22/12/2009) sekitar pukul 09.00 Wita.

Selain terlihat lucu, aktivitas langka itu mengandung pesan yang sangat dalam, tentang artinya cinta dan kasih sayang seorang anak kepada ibu kandungnya.Menurut Kepala TK Harapan Ibu, Tinaini Yuliati, kegiatan ini sengaja dilakukan sebagai sebuah simbol, menanamkan rasa cinta anak kepada ibu sejak dini. “Kami tanamkan rasa kasih sayang kepada orangtua sejak dini. Melalui pencucian kaki ini, juga melambangkan seperti pepatah surga di telapak kaki ibu,” katanya.(edward pah)

Sumber, dapatkan artikel ini di URL:http://www.banjarmasinpost.co.id/printnews/artikel/30586.

Selesai.

ASAL USUL MENCUCI KAKI

Ketahuilah…Salah Satu Bentuk adat Perkawinan Ajaran Hindu adalah Mencuci Kaki Thirumanan bermaksud penyatuan atau ikatan suci melalui perkahwinan antara pasangan suami isteri agar kekal hingga ke akhir hayat.

Terdapat tiga jenis perkahwinan dalam masyarakat India iaitu Vaitikat Thairumanam, Tamil Thairumanam dan Diya Thairumanam yang mana perkahwinan ini dijalankan adalah berlandaskan aspek suku kaum.

Majlis perkahwinan dimulakan dengan upacara niccayam (ikat janji) dengan memberi hadiah seperti pakaian dan lain-lain. Kad undangan disapu dengan air kunyit dibawa ke kuil dalam jumlah ganjil sebagai tanda rasmi undangan perkahwinan.

Upacara Kanggenam iaitu menanam sebatang pokok yang lurus dan disapu dengan serbuk kunyit tiga hari sebelum hari perkahwinan dilangsungkan. Pengantin lelaki tidak dibenarkan keluar selama tiga hari sebelum hari perkahwinan.

Upacara perkahwinan dilakukan oleh Pedanda dengan berdoa supaya pengantin hidup bahagia hingga hari tua. Pedanda akan menabur sembilan jenis bijirin setelah selesai acara menyarung cincin. Pengantin lelaki akan mengalungkan thaali yang diperbuat daripada benang yang disapu dengan kunyit dan hujungnya diikat dengan seketul kunyit kepada pengantin perempuan hingga aras dada. Kedua mempelai memberi hormat kepada ibu bapa atau mertua dengan menukar dulang berisi buah-buahan dan menyapu debu suci pada dahi pengantin.

Antara adat yang dilakukan untuk menghormati dan mendapat restu termasuklah menyerah sebiji kelapa yang dilubangkan pada bahagian atasnya, menuang air susu ke dalamnya, memberi sirih,mencium tapak kaki ibu bapa (membasuh kaki ibu bapa), memberi hadiah dhoti (bapa mertua) serta sari (ibu mertua) dan wang.

Biasanya pasangan pengantin akan bertukar-tukar kalungan bunga sebanyak tiga kali dan berkongsi minum air susu bercampur pisang di dalam sebuah gelas. Upacara ini menandakan pasangan ini secara rasmi telah menjadi suami isteri.

Beberapa faktor penting yang diambil kira sebelum upacara perkahwinan dilangsungkan untuk mendapat kebahagiaan hidup, antaranya seperti masa yang baik untuk melangsungkan perkahwinan, pengertian thaali, valatu kal, pemberian manisan, hadiah, penghormatan kepada pengantin lelaki, simbol pokok pisang, jamuan perkahwinan dan meroboh khemah perkahwinan.

TANGGAPAN SINGKAT

Sebelumnya saya mohon ma’af kepada Rarhsa yang telah memposting tulisan tersebut. Saya mengkritisinya untuk meluruskan kesalahannya, kemudian menjadi ibrah bagi kita semua, khususnya ummat Islam yang ada di Indonesia.

Gerakan moral untuk mencuci kaki ibu, baik secara perseorangan atau serentak bersama yang dilakukan dalam suatu event, terutama pada peringatan Hari Ibu, adalah tradisi baru di masyarakat kita. Gerakan ini akhir-akhir ini sangat mewabah, apalagi dibantu penyebaran informasinya oleh berbagai media.

Lantas apakah tindakan itu dibenarkan dalam Islam ?

Islam adalah agama yang sempurna, tentunya Islam mempunyai tatanan dan cara-cara tersendiri untuk menghormati kedua orang tua pada umumnya dan Ibu pada khususnya.

Rasulullah Adalah Tauladan Yang Paling Baik

Rasulullah adalah orang yang paling mengerti Islam, paling shaleh, paling ta’at, paling bersegera melakukan suatu amal, apabila di dalamnya ada kebaikan, apalagi segala sesuatu yang dilakukan Rasulullah berdasarkan wahyu dari Allah.

Rasulullah orang yang paling mengerti bagaimana cara menghormati seseorang, bagaimana cara menghibur seseorang, bagaimana cara memberlakukan orang yang sedang bersedih ditimpa musibah, termasuk musibah kematian.

Rasulullah orang yang paling mengerti bagaimana cara menghormati tetangga, Rasulullah adalah orang yang paling mengerti bagaimana cara bersosial yang baik, karena beliau mempunyai akhlakul karimah.

Rasulullah tidak pernah mencontohkan dan menganjurkan kepada para sahabat untuk mencuci dan kemudian meminum air bekas cucian kaki ibu.Seandainya perbuatan itu baik, maka mereka pasti mendahului kita untuk melakukannya.

Kemudian, kalau kita baca tulisan di atas sangat nampak jelas adanya keinginan penulis untuk menyatukan semua agama [wihdatul adyan], anjuran semua agama untuk melakukan hal yang sama, namun untuk ummat agama yang lain, dipersilahkan niatnya sesuai dengan cara ajaran agama masing-masing.

Hadits Surga Di bawah Telapak Kaki Ibu

Kita sering mendengar hadits “Surga berada di bawah telapak kaki ibu”, bagaimana kedudukan hadits ini? Syaikh Al-Bany dalam Silisilatu Ahaadits Ad-Dhaifah menjelaskan tentang 2 riwayat, sebuah riwayat merupakan hadits Palsu [maudhu], sedangkan riwayat yang lain merupakan hadits hasan, oleh karena itu hendaknya kita berpegang pada matan hadits yang hasan tersebut.

الجنة تحت أقدام الأمهات ، من شئن أدخلن ، و من شئن أخرجن

“Surga berada di bawah telapak kaum ibu. Barangsiapa dikehendakinya maka dimasukannya, dan barangsiapa dikehendaki maka dikeluarkan darinya.”

Hadits ini hadits maudhu’ (palsu). Telah diriwayarkan oleh Ibnu Adi (I/325) dan juga oleh al-Uqaili dalam adh-Dhu’afa dengan sanad dari Musa bin Muhammad bin Atha’, dari Abul Malih, dari Maimun, dari Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu’anhu.

Kemudian al-Uqaili mengatakan bahwa hadits ini munkar. Bagian pertama dari riwayat tersebut mempunyai sanad lain, namun mayoritas rijal sanadnya majhul.

Dalam masalah ini, cukuplah dengan riwayat yang di keluarkan oleh Imam Nasa’i dan Thabrani dengan sanad hasan, yaitu kisah seseorang yang datang menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam seraya meminta izin untuk ikut andil berjihad bersama beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bertanya, Adakah engkau masih mempunyai ibu? Orang itu menjawab, Ya, masih. Beliaupun kemudian bersabda,

فالزمها فإن الجنة تحت رجليها

“Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya”.

Referensi:

Hadits ke 593 dari kitab Silsilatu Ahaaditsu Ad-Dhaifah wal Maudhuah wa Atsarus Sayyi fil Ummah karya Syaikh Al-Bany, edisi terjemahan, Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu jilid-2, cetakan Gema Insani Press)

— with Ukhty Syifa Any Ningrum and 2 others.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s