Pamit

Posted: August 1, 2013 in Puisi

Hari ini aku wafat dari hidup dan kehidupanku. Aku adalah kristal mujarab penawar kepedihan. Kasih sayang membuatku tegar dan sederhana, membuatku semakin percaya bahwa cinta adalah sebuah kesempurnaan. Aku masih ingat, ketika masih hidup, aku selalu mendapat kedukaan. Ada banyak kisah menyenangkan, menyedihkan, tentang cinta dan hidupku. Atau tentang dosa dan sorgaku. Betapa hangat aku dipelukNya sebelum akhirnya aku lelap dalam tidur panjang. Tapi semenjak hidupku, aku hanya merasakannya hanya sejenak. Tentu saja, karena aku hanyalah seorang yang tak mampu untuk hidup.

 

Pamit..

Aku merasa putus asa akan hidup, putus asa akan kehidupanku. Setelah aku mati, tak ada lagi kupaksa mata ini terpejam, karena hati telah bicara tentang matahari yang telah tenggelam. Suatu malam Ibu menatap rembulan yang melemparkan senyum dan ditemani bintang-bintang. Ibu melangkahkan kaki tanpa alas, pelan menginjak tanah yang lembab dan dingin. Berjalan melawan angin yang membelai perlahan terus….terus kearah timur. Berharap aku datang sebelum fajar diufuk timur menjelang. ”Bu, aku disini dihadapanmu. Aku menangis, aku merindukanmu, lihat aku Bu. Hampiri aku”. Ibu tak bisa melihatku. Aku hanyalah roh yang sesat meminta pamit dunia.

 

Tiba-tiba ayahku datang terlihat sesaat menangis dan menghampiri Ibu. Mendekap Ibu membiarkan Ibu menangis dipundak ayah sambil membawa Ibu ke dalam. Tuhan, padahal siang tadi keluargaku menhantarku ke tempat istirahat terakhirku. Apa aku tak bisa muncul dihadapannya, untuk menghilangkan air mata dipipinya. Ijinkan aku ya Allah. Ibu terbaring kaku ditempat tidurnya, sedangkan ayah memandangi foto ku yang ada dikamarku. Memandangi senyumku. Ayah begitu senang melihat senyumku suatu ketika dahulu.

 

Aku melihat cahaya menghampiriku. Melihat sesaat ayah disampingku sambil membisikkan kalimat dua syahadat di telingaku. Aku mengucapkannya hingga airmata ayah menetes jatuh ke pipiku dan aku telah pergi. Aku meninggalkan ragaku ditempat tidur kamarku. Orang tuaku hanya bisa pasrah melihatku. Kini hanya ada ayah, ibu, kakak dan kedua anakku dirumah kecilku.

 

Ayahku..

Ayah adalah lelaki terbaik bagi Ibu. Begitu pun sebaliknya. Selama dihidupku, mereka sangat menyayangiku. Kalau pun dulu aku pernah melihat Ibu menangis, itu terjadi ketika ia sangat bahagia mendapat hadiah ulang tahun, atau ketika aku jatuh sakit. Selebihnya, Ibu selalu memiliki senyum yang panjang disampingku. Itulah Ibu, wanita yang lembut dan penuh pengertian. Tapi aku kini tinggal kenangan. Setelah satu minggu terbaring dengan tubuh sakit-sakitan, kematian akhirnya merangkulku.

 

Ibu pasti sangat sedih kehilanganku. Melebihi kesedihan siapa pun. Air matanya tak henti mengalir semenjak pertama kalinya aku jatuh sakit hingga kini wafat. Hanya ayah kini satu-satunya milik Ibu. Menjadi kebagian terbesar ayahku jika kini ia akan menghabiskan masa tuanya untuk menjaga dan menemani Ibu, menghapus kesedihan Ibu. Mereka akan tinggal dirumah sederhana ini. Rumah dari kerja keras aku selama ini.

 

Putri-putriku..

Ayah merangkul Ibu dan anak-anakku yang masih menangis dihadapan jenazahku. Doa-doa terdengar dari mulut orang-orang yang sejak pagi tadi duduk melingkar depan jenazahku. Sebelum dzuhur jenazahku akan dikebumikan. Mereka menunggu beberapa temanku yang rencananya akan datang. Setelah itu segalanya sudah dipersiapkan dengan baik. Pukul setengah sepuluh teman-temanku mulai berdatangan. Mereka turut berbela sungkawa. Ada yang bercerita panjang lebar tentang pengalaman masa hidupku. Ada juga yang bercerita tentang kebaikan-kebaikanku selama hidup.

 

Ada seorang perempuan yang tiba-tiba menangis keras dihadapan jenazahku. ”yang maafin aku sayang”. Ucapnya pelan disela tangisnya. Perempuan itu terdengar menangis demikian pedih dihadapan jenazahku. Ia istriku, yang pernah mengisi kehidupanku. Ia perlahan menghampiri Ibu yang mulai berhenti menangis. Ia menatapku perlahan. Ia mencoba tersenyum dan merangkul kedua putriku. Tak lama kemudian aku melihat perempuan itu bangkit, mengusap airmatanya yang tak henti, menangis keluar ruangan.

 

Mantanku..

Sebenarnya aku adalah kamu. Tak ada maksud aku merubah apapun dan tak ada kesengajaan pula untuk melukai sebuah hati. Dulu kita menangis, tertawa, bercanda. Semua bersama. Tapi pernah kau pikirkan kenapa saat ini semuanya begitu hambar. Bahkan terlalu kering untuk menghilangkan dahaga?

 

Ikatan itu kadang begitu jauh. Kadang pula begitu sangat dekat. Aku menyayangimu, memujamu, meneladanimu dan seringnya aku takluk padamu. Setelah begitu banyak kesalahan yang kau ciptakan, aku masih bisa menerimamu.

 

Tapi lagi-lagi tak pernah kau mengerti. Aku adalah manusia yang telah tumbuh dewasa dengan pemahaman yang amat mengagumi untukku sekaligus mengerikan bagiku. Bukannya kau merubah dirimu, namun kau begitu menjadi-jadi sehingga kau lupa aku menyaksikan semua itu. Menyaksikan hal begitu merobek dan memporak-porandakan asa ku atas khilaf dan kelalaianmu, serta seluruhnya pengkhianatanmu.

 

Kadang memang kau masih perduli padaku. Dramatisnya, itu hanya rasa kemanusiaanmu yang tertinggal, itupun tak terlalu banyak seperti dahulu. Kau tau cucuran airmata ini telah habis untukmu. Entah telah berapa lama aku bernaung untuk melindungimu.

 

Inilah kisahku. Setelah kematianku ini, tidak akan ada lagi cerita atau puisi yang kusam. Aku hanyalah aku. Yang selalu menulis apa yang ada didalam dasar hatiku. Maafkan aku. Kini aku pergi untuk sekian lamanya hingga kau pun tak lagi perduli. Tolong pula kau bertobat akan khilafmu. Maafkan aku, akan kita bertemu pada saatnya dihari pertemuan nanti.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s