Surat Dalam Hujan

Posted: August 1, 2013 in Puisi

Semilir angin pagi membuai lamunan ku dalam bayangan dan khayalan ku yang amat tinggi, aku pun bercinta dengan asa-asa semu yang menggelayut dalam benakku. Entah telah berapa lama semua ini ku imajinasikan untuk kemudian terbingkai dalam diariku maupun figura kisah kasih kita.

 

Setidaknya aku manusia wajar yang masih menanti kebahagiaan bukan penderitaan. Entah bagaimana caranya pagi yang begitu indah ku nikmati, terenggut begitu saja dari hadapan ku. Rintikan air dari atas sana membuyarkan semua lamunan ku. Sebenarnya aku tak pernah begitu benci pada titik air itu jika dia datang pada saat yang tepat.

 

Hujan seperti pantulan manik-manik kaca menderas seketika dengan anggunnya. Aku menyesal, motor di luar pasti akan kotor lagi. Disisi lain aku gembira karena turunnya rahmat dari Allah.

 

Hujan…Aku duduk di sini, dekat jendela kaca memerhatikan curahan air yang mengguyur serentak dari udara. Seperti apakah bunyinya? Di atas atap, di dedaunan, di tanah becek, bahkan di got yang berderet nun di bawah? Aku tak tau.

 

Sunyi….Kecuali gelegar petir yang menghantam bumi. Ya, hanya itu yang kurasakan. Aku ingat kamu. Aku suka hujan, aku suka suasananya yang begitu kontemplatif. Kurasakan ekstase tertentu jika hujan. Memberiku inspirasi untuk menulis puisi. Bahkan juga mengirim pesan untukmu dalam suasana hujan. Kupikir cukup romantis, meski isinya terkadang bernada humor yang ironis.

 

Aku rindu pesanmu. Yang selalu hangat dan menggembirakan, simpel dan terkadang menggetarkan. Namun mungkin kamu sudah kecewa dengan kenyataan yang pernah kita ungkapkan dalam perhubungan kita beberapa tahun yang lalu.. Mungkin kamu kebingungan dan terpaksa bertanya pada orang yang kebetulan pernah bertemu denganku, entah siapa. Dan rentetan kemungkinan lainnya mengendap dalam benakku. Namun aku harap kamu benar-benar cukup dewasa untuk menerima realitas dalam hidup yang penuh ketakterdugaan.

 

Aku kesepian. Apa yang kulakukan? Duduk di kursi sembari mengangkat kaki, dan di rumah hanya ada aku sendiri. Aku membayangkan kamu. Sosok yang tak lagi kutemui. Hanya foto kamu yang dipajang. Heran…di luar belasan burung entah apa namanya berseliweran dalam guyuran hujan begini. Apa yang mereka cari? Barangkali kamu lebih tau ekologi dan mau berteori?

 

Aku kedinginan. Aliran listrik padam. Barangkali segelas teh manis panas bisa menghangatkan tubuhku. Apakah disana saat ini sedang hujan juga, dan kamu tengah bagaimana? Mengobrol, atau nonton TV? Mendengarkan musik atau apa. Tidur atau makan? Solat malam atau menggigil kehujanan? Atau tak melakukan apa-apa sama sekali? Cuma Tuhan yang tau. Relasi yang aneh katamu?

 

Bertemu…Aku juga ingin bertemu kamu. Namun untuk apa? Adakah makna dari pertemuan itu? Kubayangkan kamu sebagai temanku, sahabatku, ibuku, kakakku yang membagi dunia lewat tangannya. Namun apa kamu bisa paham dengan bahasa bola mataku? Kamu kecewa karena aku tidak seperti yang kamu pikirkan? Apakah dalam pertemuan pertamaku, aku harus memberitau siapa diriku secara mendetail?

 

Aku telah mengambil risiko. Begitu pun kamu. Risiko untuk merelasikan diri dan berinteraksi dengan orang asing dari dua sisi mata uang. Sebuah silaturahmi yang kumulai, haruskah berakhir sia-sia? Aku berusaha menerima dirimu sebagaimana adanya dan menjadi orang biasa, meski aku tau orang-orang di sekitarku kecewa. Keluarga, teman-teman, sahabat dekat, sampai siapa saja yang memang merasa harus kecewa. Berbulan-bulan sejak kita berpisah, kujalani hari dengan sunyi, sebuah dunia tanpa bunyi-bunyi. Bisakah kamu bayangkan? Ah, aku tak akan bisa mendengar teriakan anak-anakku. Atau bagaimana suatu melodi yang tercipta dari puisiku. Aku juga tak akan tau warna hatimu saat memusikalisasikan puisiku, berdeklamasi, tadarusan, atau bicara biasa saja. Tentang dirimu, keluargamu dan kamu senang cerita soal itu padaku, seolah dengan cara itu kamu bisa meluapkan kegelisahan terpendamnya yang liar menuju muara kebebasan.

 

Lucu…Adakah orang asing yang begitu besar rasa ingin taunya tentang sesuatu yang tak mungkin bisa dirasakan. Katakan aku aneh. Aku memang orang aneh. Namun aku juga berharap bisa tau lebih banyak tentang dirimu. Ya, itu jika kita bertemu. Mungkinkah itu?

 

Tempias hujan tidak deras lagi, namun kesedihan itu masih menghantam ruang terdalam. Aku butuh kawan. Kamukah orangnya? Tidak, kamu mungkin sudah berharap agar aku jadi seseorang yang terakhir setelah kamu kecewa dengan seorang lelaki yang pernah masuk kedalam hidupmu. Meski itu terlalu dini karena baru beberapa tahun kita berpisah. Semudah itukah hatimu terpaut, atau kamu cuma ingin mengujiku? Tidak. Aku tak berharap apa-apa darimu. Aku hanya ingin jadi kawanmu. Kawan biasa. Meski aku juga ingin mendapat cinta darimu, sebagaimana lelaki kebanyakan. Seseorang yang membuatku jatuh cinta sungguhan. Seseorang yang mencintaiku apa adanya. Seseorang di mana bisa berbagi dunia. Naifkah?

 

Hujan…Aku kembali memandang ke luar jendela kaca. Di sana gedung begitu dekat dengan latar pepohonan seperti hamparan permaidani hijau kebiruan, dan kabut yang mengental terasa beku dalam pelukan kegaiban-Nya. Ya Allah, barusan kulihat kilatan petir membelah langit kota di sebelah utara. Subhanallah, indah sekali bentuknya. Kilatan warna perak yang abstrak dengan latar kelabu. Aku membayangkan bagaimana seandainya jika petir tiba-tiba menghajarku. Sudahlah, mungkin lebih baik aku membayangkan diriku sebagai Selebritis ternama. Akan kuabadikan keindahan panorama hujan. Tidak. Aku bukan mereka. Aku cuma punya kata-kata. Namun kata-kata yang berhamburan dari mulutku pasti tak akan kamu mengerti sepenuhnya jika kita berbicara. Apakah kita akan bertemu dan bicara seolah kawan lama dengan akrabnya? Atau kaku lalu merasa sia-sia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s