Langit Senja

Posted: October 2, 2013 in Puisi

Biasanya setiap senja tiba, aku senang berlama-lama di beranda rumah. Menyaksikan kemilau langit senja, juga burung-burung yang hendak pulang ke sarang. Setiap senja langit, tak pernah sepi. Beribu senja aku lewati tanpa kesan, apalagi kenangan. Untuk menikmatinya sejenak pun tak pernah terpikirkan. Diluar terlampau sibuk dengan urusan duniawi. Dan aku terseret hanyut di dalamnya.

Pesan darinya tergelatak dimeja. Aku takut menyentuh hp ku. Aku tak punya nyali untuk membuka apalagi membacanya. Hingga malam larut, aku masih takut membukanya.

“..dia..”
Sebut saja namanya dia. Setiap kali memanggilnya, perasaan rindu kian mengental. Tetapi aku tetap saja tak berani membuka pesan itu. Aku takut itu justru menambah rasa cinta dan bersalahku padanya.

Aku pandangi hp itu. Bukalah dan bacalah bila kamu masih menganggap dia bagian dari hidupmu. Hatiku bergolak. Bacalah agar dapat kau hirup udara, juga tanah basah dibawah karena guyuran hujan semalam. Bacalah agar dapat kau nikmati aroma aspal sepanjang jalan menuju kantormu.

Bacalah pesan itu agar dapat kau nikmati kembali masa lalumu. Bukankah kau tak mampu memberinya kebahagiaan yang lebih, juga kehidupan sempurna.

Aku berbisik, “Diluar memang memberimu materi berlimpah, tapi yang lebih banyak justru kesepian yang sangat. Sungguh, kekayaan tidak bisa menjaminkan kebahgiaan. Ingat, kau hanya perantau di dunia”.

Darahku berdesir. Aku tak akan pernah bisa mengingkari kata hatiku. Karena di sanalah tangis pertama putriku terdengar. Tanah, air, udara, angin, langit kota yang jadi saksi kelahirannya. Aku tak akan pernah bisa mengingkarinya. Tak pernah bisa.

Perlahan, aku sentuh hp yang tergeletak lesu di meja. Darahku berdesir ketika jemariku menyentuhnya. Bukalah. Aku himpun seribu kekuatan untuk bisa membaca pesan itu. Aku berusaha berdamai dengan hatiku. Tetapi tiba-tiba aku menjadi menggigil.

Perasaan kangen dan kecintaan tumbuh merayap dalam benak. Aku merasakan cinta yang berbuncah-buncah. Putri-putriku yang terletak puluhan mil dari rumah seperti terang-benderang dalam pandangan. Kemilaunya melebihi kemilau bintang di langit. Aku akan membuka pesan itu dengan suka cita, dengan sepenuh jiwa dan raga.

Ah, mengapa perasaan galau datang seperti hendak membunuhku? Aku senantiasa takut. Takut untuk membuka dan membacanya. Dan ini entah hari keberapa aku kembali termangu-mangu di depan hp yang tergeletak lesu. Nyaliku ciut, bahkan rontok habis di depannya. Aku tak pernah bisa membuka terlebih membacanya.

Hingga berhari-hari, bahkan sampai melewatkan seminggu. Hp itu masih tetap tergeletak di atas meja. Sunyi dan berdebu. Aku makin tidak berani membukanya. Apalagi ketika mengingat berbagai persoalan hidup yang menjerat keluargaku. Melihat orang tuaku banting tulang untuk sekadar bisa makan.

Ah, kemiskinan. Siapa yang pernah mengundang kemiskinan dalam hidup. Tak seorang pun mengundangnya dengan ramah untuk singgah dan akrab dalam keseharian. Kemiskinan datang seperti kanker yang menggerogoti tubuh dan hidup. Kemiskinan seringkali membuat aku putus asa, bahkan enggan untuk membuka jendela kamar, meski hanya untuk menyambut matahari pagi.

Aku selalu malas membayangkan esok hari. Karena bagiku esok dan lusa hanya siluet buram yang datang berulang-ulang, tanpa aku tau kapan siluet buram itu berganti warna. Warna biru misalnya, yang menawarkan kesejukan hati. Atau warna hijau yang menawarkan keselarasan alam. Atau siluet buram itu berubah warna merah jambu. Ah, kapan waktu dan kenyataan memberiku kesempatan untuk merasakan damai, tanpa berpikir besok apakah ada sesuap nasi yang bisa dimakan.

Aku seperti berada di tengah perang yang berkecamuk. Sengit. Ada hasrat ingin membunuh, ada ketakutan teramat dalam kalau-kalau dalam perang itu aku terbunuh. Aku selalu lunglai, takut dan enggan menghadapi hari esok.

Esok aku harus bergulat dengan pekerjaan yang tak pernah aku inginkan. Aku menghela nafas panjang. Menghembuskannya dengan sangat kasar. Dalam hembusan nafasku itu angin pasti bisa membaca, betapa waktu dan keadaan tak pernah adil terhadapku. Aku pernah membenci waktu, juga keadaan, hingga aku pun pernah tergelincir membenci Tuhan. Karena aku merasa betapa Tuhan telah membedakan hidupku dengan yang lain. Di sinilah aku merasa bahwa waktu tak berpihak padaku. Apakah waktu telah memberiku kesempatan sedikit saja untuk menikmati masa lalu? Kenyataan yang tak aku senangi. Seringkali aku merasa bersalah dan berdosa.

Hatiku teriris-iris setiap kali mendengar laungan azan yang berkumandang. Semestinya solat. Bukan menjadi orang yg putus asa. Aku pernah menyampaikan keinginanku untuk bersolat. Kalimat-kalimat ayat suci membuat darahku berdesir. Tuhan tidak akan mewariskan kesedihan itu kepadaku.

Petir itu menggelegar di siang bolong. Menamparku tepat di ulu hati. Aku bertekad membuka pesan itu. Aku terpaksa mengubur seluruh cinta dan kerinduan yang amat sangat. Apa boleh buat. Bukankah lebih baik menghindari daripada mengungkapkan rasa benci? Aku tidak yakin bakal tega melihat isi kandungannya. Aku tidak akan sanggup kesemena-menaan itu berlangsung.

Tubuhku nyeri. Mataku menjadi berkunang-kunang membaca tulisan pesan itu. “Kita Pisah” Tak ada penjelasan lebih. Pesan itu begitu pendek. Tetapi dua kata itu jelas membuatku terperangkap.

Aku cinta dia. Dia melebihi tanah, air, langit dan udara. Dia adalah tanah airku.

Muhammad Zulfian Lz
Selasa
05:30 pagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s