Nasehat Untuk Suami Dan Istri

Posted: December 2, 2013 in Muslimah

Wahai Suami, engkau adalah pemimpin rumah tangga. Aturlah keluargamu dengan aturan Allah, pimpinlah istri dan anakmu untuk taat kepada-Nya, bimbinglah mereka terhadap apa yang maslahat (baik) untuk mereka. Insya Allah engkau akan mendapati istri dan anak-anak menghormatimu, memuliakanmu dan taat kepadamu. Itulah kewajiban sebagai seorang yang dipimpin kepada yang memimpin.

Allah Ta’ala berfirman,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (Qs. an-Nisa’:34)

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Qs. al-Baqarah : 228)

Wahai Istri, suami adalah anugerah dan kenikmatan yang besar yang Allah karuniakan kepadamu. Ketika banyak para wanita yang belum menikah, Allah mengaruniakanmu seorang suami shalih -Insya Allah- seperti dirinya. Ketika banyak dari para wanita yang mempunyai suami yang tidak memperhatikan agama istrinya, Allah memberikanmu seorang suami yang selalu menyemangatimu untuk hadir ke majelis-majelis ilmu.

Ketika banyak suami yang acuh-tak-acuh dengan perbuatan-perbuatan istrinya yang salah, Allah memberikan kepadamu seorang suami yang selalu menasehatimu. Ketika banyak suami yang tak peduli halal dan haram ketika ia mencari rezeki, Allah memberikan kepadamu seorang suami yang merasa cukup dengan yang halal. Banyak lagi kebaikan dan keutamaannya, apakah pantas bagimu untuk tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat dirinya, apakah pantas bagimu untuk tidak berterima kasih kepadanya dengan segala kebaikannya, kasih sayangnya, perhatiannya, jerih payahnya untuk dirimu…?

Allah Ta’aala berfirman,

“Dan (ingatlah juga), tatkala Allah mema’lumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sagat pedih.”(Qs. Ibrahim : 7)

Dan dalam sebuah hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku melihat neraka dan aku melihat sebagian besar penduduknya adalah kaum wanita. Mereka (para sahabat) bertanya, ‘Mengapa demikian wahai Rasulullah?
Mereka mendurhakai suami dan mengingkari kebaikannya. Sekiranya seorang dari mereka engkau perlakukan dengan baik sepanjang masa, lalu ia melihat sesuatu (kesalahan) darimu, ia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat satu pun kebaikan darimu selama ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai Istri, segala puji bagi Allah sematalah kemudian karena sebab pendidikan orang tuamu yang baik, yang telah mempersiapkan dan mendidikmu untuk menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga yang baik, sehingga engkau sadar bahwasanya pernikahan bukanlah surga yang tak ada problema, kesusahan dan kesulitan. Dan juga bukanlah neraka yang ada hanya kesusahan dan kesengsaraan. Semoga dengan sebab itu engkau lebih siap dan tegar jika kesusahan, kesulitan datang menerpa. Jadilah pendamping yang kokoh dalam mengarungi kehidupan rumah tangga kalian. Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.

Allah Ta’aala berfirman,

“ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Qs. al-Fatihah : 5)

Wahai suami, keinginanmu agar dia dekat dengan orang tuamu, dia pun menginginkan hal yang demikian. Orang tuamu adalah orang tuanya juga. Dan engkau tetap berbakti, melayani dan memberikan perhatian yang besar kepadanya walaupun engkau sudah menikah. Insya Allah dia akan membantumu untuk hal itu.

Allah Ta’ala berfirman,

“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua (ibu dan bapa).” (Qs. an-Nisa’ : 36)

Wahai Istri, banyak hal yang tidak diperhatikan oleh sebagian istri tentang perkara-perkara yang membuat suaminya senang dan menghindari sesuatu yang membuat suaminya tidak suka. Di antaranya tampil apa adanya di depan suaminya, tidak mau berdandan dan mempercantik diri.

Wahai suami, katakanlah kepadanya apa yang membuat dirimu senang sehingga dia akan berusaha untuk melakukannya dan katakanlah sesuatu yang membuatmu benci sehingga dia menjauhinya.

Dan dalam sebuah hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ Sebaik-baik istri adalah yang menyenangkan suami apabila ia melihatnya, mentaati apabila suami menyuruhnya, dan tidak menyelisihi atas dirinya dan hartanya dengan apa yang tidak disukai suaminya.” (HR. ath-Thabrani dari ‘Abdullah bin Salam, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Wahai Istri, sungguh sebuah keburukan kalau engkau tidak bisa menerima kekurangan dirinya di mana kelebihannya tak sebanding dengan kekurangannya. Padahal kau tahu tak ada seorang yang sempurna. Apakah pantas kau bersikap seperti itu, sedangkan dia ridha dan bersabar dengan berbagai kekurangan dirimu?

Wahai Istri, ketika kau merasa lelah dalam mengurus pekerjaan rumah, coba ingat kisahnya seorang wanita yang mulia, pemimpin wanita di surga yang merasa keletihan ketika ia mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Seorang wanita shalihah yang memiliki jiwa yang mulia, hati yang bersih dan akal yang terbimbing oleh syari’at yang agung. Semoga engkau bisa meneladani kesabaran Fathimah putrinya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bukan malah meneladani wanita yang akalnya menjadi tempat sampah pemikiran barat yang menamakan dirinya Feminisme.

“ Suatu ketika Fathimah mengeluh kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas kelelahan yang ia rasakan sebab ia menarik alat penggiling hingga berbekas di kedua tangannya, menimba air dengan qirbah (tempat air pada masa itu) hingga qirbah membekas di lehernya, dan menyalakan api di tungku hingga mengotori pakaiannya. Itu semua terasa berat baginya. Lalu apa tanggapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu? Beliau menasehati Fathimah dan Ali bin Abi Thalib agar bertasbih sebanyak 33 kali, bertahmid 33 kali dan bertakbir 33 kali setiap hendak tidur . Beliau bersabda kepada keduanya bahwa itu semua lebih baik dari pembantu (yang Fathimah minta –ed).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai Istri, seharusnya engkau sadar. Bahwa setiap suami mempunyai posisi dan status sosial yang berbeda. Ada di antara suami yang sangat dibutuhkan oleh keluarganya. Ada juga seorang suami yang memiliki kedudukan yang penting sehingga sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Ada juga seorang suami yang menjadi seorang da’i sehingga sangat dibutuhkan oleh ummat. Seharusnya setiap istri memperhatikan hal ini.

Jika dia seorang suami yang sangat dibutuhkan keluarganya maka bantulah ia, dan relakanlah sendainya hak waktumu sedikit terkurangi. Bukan malah menghalangi dari keluarganya. Kalau dia seorang yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat atau ummat, maka bantulah ia, semangatilah ia dan berilah nasehat untuk ikhlas dalam melayani ummat dan bershabar atas mereka. Bukan malah bertindak seperti anak kecil yang merongrong suaminya hanya karena dia tidak selalu berada di sisimu. Atau sesekali ketika lagi bersenda gurau denganmu ia mengangkat telpon untuk sekedar memberikan nasehat atau saran kepada ummat.

Wahai Istri, semoga kau bisa memperhatikan hal ini. Dan ingatlah sebuah ayat yang seharusnya membuatmu untuk berfikir dan merenungi sejauh mana kau merealisasikan ayat ini atau malah sebaliknya. Allah Ta’aala berfirman,

“ Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa.” (Qs. al-Maidah : 2)

Semoga Allah, jadikanmu istri shalihah yang membantu suamimu untuk taat kepada-Nya, berdakwah di jalan-Nya dan melakukan berbagai amalan kebaikan bukan malah sebaliknya menjadi fitnah baginya.

Allah Ta’ala berfirman,

“ Wahai orang-orang yang beriman, ‘Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (Qs. at-Taghabun : 14)

Wahai Istri, rezeki yang halal sudah sangat cukup bagimu. Nafkah yang dia berikan kepadamu sebagai bentuk tanggungjawabnya sebagai seorang suami sangatlah besar walaupun menurut sebagian orang dinilai kecil.

Keindahan dan kebahagian hidup ini adalah ketika kita bisa bersyukur dan hidup dengan qana’ah. Ya Allah, lindungilah ia dari menjadi istri yang tidak pandai bersyukur yang bisanya hanya menuntut, terlebih lagi menjadi sebab suaminya mengambil yang haram. Dan dalam sebuah hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, rezekinya cukup dan Allah memberikan kepuasan atas apa yang telah dikaruniakan kepadanya.“ (HR. Muslim dari ‘Abdullah bin Amr bin al-Ash)

Dan dalam hadits yang lain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah menjaga dirinya dan barang siapa yang merasa cukup, maka Allah akan memberi kecukupan baginya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

“Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup/qana’ah).” (HR. an-Nasa’i, al-Baihaqi, at-Tirmidzi dan ia berkata hadits ini sanadnya shahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi dari ‘Abdullah bin ‘Amr)

Wahai Suami, perkenankanlah dia untuk meminta maaf atas kekurangan dalam melayanimu. Karena itulah adalah tugas dan kewajibannya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila seorang istri mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah Radiyallaahu ‘anhu)

Wahai Suami, maklumilah kalau engkau melihat dirinya cemburu kepadamu karena inilah tabiat seorang wanita, disamping dia sangat mencintaimu. Ibunya kaum mukminin pun merasakan cemburu di hatinya, ketika ia berkata, “Aku tidak pernah merasa cemburu kepada salah seorang istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam seperti cemburuku kepada Khadijah, disebabkan seringnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebut namanya dan sanjungan beliau kepadanya.” (HR. Bukhari).

Insya Allah, kecemburuannya adalah kecemburuan yang wajar yang merupakan tabiat seorang wanita, bukan kecemburuan yang menghalangi suaminya untuk taat kepada Allah, atau kecemburuan yang menjadi sebab suaminya terjatuh kepada yang haram.
Wahai Suami Istri, anak-anak adalah buah hati, buah cinta kalian. Karunia yang Allah karuniakan kepada kalian, sekaligus merupakan amanah yang Allah amanahkan kepada kalian. Didiklah mereka dengan pendidikan yang baik, dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Didiklah mereka untuk mentauhidkan Allah, agar taat kepada Allah dan Rasul-Nya, agar berbakti kepada orangtuanya.

Semoga Allah mengkaruniakan anak yang shalih dan shalihah kepada kalian. Amiin.
Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

“Ya Rabbku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a.” (Qs. Ali Imran : 38)

Wahai Istri, tentu sebagai seorang muslimah kau mendambakan surga Allah dan khawatir terhadap neraka-Nya. Sebuah hadits di mana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Perhatikanlah posisimu terhadap suamimu sebab dia adalah surgamu dan nerakamu.” (HR. Ahmad dan al-Hakim dan selainnya, ia menyatakan hadits shahih dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi)

Dan di antara jalan menuju surga adalah dengan mentaati suamimu. Sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila seorang istri mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu)

Dan sebaliknya di antara jalan menuju neraka adalah bersikap nusyuz kepadanya, durhaka dan tidak taat kepadanya. Selalu taat dan berbuat baik kepadanya dengan menjaga kehormatanmu, menjaga dirimu dari menyakitinya, tidak lalai melayaninya, tidak keluar rumah tanpa seizinnya, tidak menyebarkan problema rumah tangga kepada orang.

Sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada dua orang yang mana shalat mereka tidak naik melewati kepala mereka ; yakni seorang budak yang lari dari majikannya hingga kembali kepadanya, dan seorang istri yang bermaksiat kepada suaminya hingga ia kembali taat.” (HR. ath-Thabarani, al-Hakim dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah dari ‘Abdullah bin Amr al-Ash Radiyallahu ‘anhu)

Wahai Suami, pabila kau melihat dia mencintai dan menyayangimu, dekaplah dia di kehangatan cinta dan kasih sayangmu, belailah dia di kelembutan perhatianmu, hiburlah dia di canda dan tawamu semoga Allah melanggengkan rumah tangga kalian dan mengumpulkan kalian di dalam surga-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s