Diam Tidak Pernah Salah

Posted: February 8, 2014 in Uncategorized

Kemarin ana tersentak oleh sebuah pesan “apa yang keluar dari mulut kita itu adalah kita” dan kemudian ana merenung atas apa apa yang pernah kita ucapkan, perkataan baikkah atau kata kata yang menyakitkan kita yang mampu kita ucap, atau rentetan dusta yang tak mampu kita bendung, lalu terbayang oleh ana ketika sumbu amarah kita tersulut oleh perbuatan orang lain yang tidak menyenangkan hati, kita memaki dengan kata kata “bodoh” yang jika dikatakan dengan pesan diatas tadi, kata bodoh yang kita tunjukan untuk orang lain sesungguhnya itu adalah kita, iya itulah kita, ketika kita mengatakan orang itu “ular berkepala dua” karena suka mengadu domba dan memfitnah, mungkin kita juga begitu, jadi siapa kita, kita adalah yang keluar dari mulut kita itu, ya ALLAH.

Diam itu adalah emas, diam adalah ibadah yang tanpa bersusah payah, diam adalah perhiasan bibir tanpa berhias dengan pemerah, diam adalah kehebatan tanpa kerajaan, benteng tanpa pagar, kekayaan tanpa meminta kepada orang, istirahat bagi kedua malaikat pencatat amal, penutup segala aib. Masya Allah, indahnya diam.

Mari berpikir, jika dalam sehari itu ada 24 jam, dikurangi jam tidur kita 6 jam maka kita punya waktu hidup 18 jam dalam 18 jam ini berapa banyak kata kata bak meteor yang keluar dari mulut kita, jalan di kota yang padat membuat kita emosi dan memaki orang yang nyerempet motor kita seenaknya, di tempat kita menjemput rejeki kita berhadapan dengan orang orang yang tidak selalu manis dan kita membalasnya dengan lebih pahit lagi, di fesbuk melihat status orang dan komen komenan yang nggak nggak, ke orang tua kita mungkin kita tak bermaksud membentak tapi “huh” yang keluar dari mulut kita mungkin melukainya, jika kita tak mampu berkata kata yang menyenangkan sebaiknya kita diam, jika hanya bisa bohong dan bohong yang keluar dari mulut kita sebaiknya kita gak bicara sama sekali, jika hanya luka dan makian mending lakban deh tu mulut.

Sungguh lidah memang tak bertulang, setiap gerakannya akan menggetarkan pita suara, dan suara yang keluar jika tak bernilai kebaikan sebaiknya diam, dan mustinya kita harus selalu ingat bahwa setiap gerakan lidah akan dimintai pertanggungjawaban oleh ALLAH di mahkamah ALLAH nanti, iya lidah akan dihisab, bicara apa dan berkata apa, di mahkamah ALLAH tidak ada pengacara yang akan membela apalagi membenarkan ucapan kita, di sana lidah kita hanya akan berkata jujur tentang semua yang pernah kita ucapkannya, dan betullah seharusnya kita DIAM ketika tidak bisa berkata benar, diam dan dzikir loh yah, bukan diam terus ngelamun.

Semakin banyak bicara semakin banyak salah, maka diam itu tidak pernah salah, jadi mulai sekarang ada baiknya kita belajar menjadi pendengar dan bukan pembicara, kekasih ALLAH itu diamnya dzikir, bicaranya dakwah, kan gitu yah?

“Kalau dihina?” gak usah dibalas dengan hinaan, rugi lah mengotori lidah dengan menghina orang itu lagi, ketika ada orang yang menghina kita kan orang itu sedang menghina dirinya sendiri kan sebetulnya, ketika kita membalas lagi dengan hinaan, terus apa bedanya dong kita dengan dia? abis pahala dan energi hanya untuk membalas sesuatu yang gak penting lagi buat kita bukan? biarkan saja… sudahi saja dengan diam dan senyum manis.

Kata ana, “Setan itu mencari sahabat sahabatnya dan ALLAH melindungi kekasih kekasihNYA” salah satu agar dicintai ALLAH dan menjadi kekasih ALLAH adalah dengan menjadi ahli dzikir dan sifat dari para ahli dzikir itu “diamnya dzikir, bicaranya dakwah” …Jadi, diam itu tidak pernah salah bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s