Fenomena TKW

Posted: March 14, 2014 in Muslimah

Diantara TKW yang bekerja keluar negeri ada dari mereka yang janda-janda sedangkan mereka memiliki tanggungan untuk menghidupi anak-anaknya, ada juga yang gadis-gadis belia sedangkan mereka juga punya tanggungan memenuhi kebutuhan orangtua dan adik-adiknya yang miskin, belum lagi istri-istri yang mana suaminya tidak bertanggung jawab terhadapnya dan menelantarkannya, atau suaminya tidak memiliki kemampuan menafkahi keluarganya….

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka karena keterpaksaan mereka menjadi TKW dan hidup jauh tanpa didampingi oleh mahramnya. Dan semoga pula Allah memberikan kemudahan atas urusan mereka, serta hidayah kepadanya agar mereka mampu untuk istiqamah diatas agama ini secara kaaffah.

Tidak ketinggalan pula, ada diantara TKW tersebut yang mereka adalah wanita-wanita yang nakal yang mencari kenikmatan hidup di dunia semata dengan mengabaikan agama mereka, ada juga istri-istri yang durhaka kepada suaminya karena merasa tidak cukup atau sakit hati terhadap suaminya.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka, dan mengampuni dosa-dosa mereka.

Banyak manusia mencela TKW karena perbuatannya, yaitu pergi tanpa mahram, pekerjaannya hina, lemahnya aqidah dan iman mereka, serta tidak mampu tawakkal di negeri sendiri. Dan ada juga yang mencela negara-negara Arab karena perbuatan mereka kepada TKW itu, yaitu menzhalimi, menghukum mati, merendahkan, kasar, dan lainnya. Lantas apakah sebelumnya kita sudah mencela diri kita sendiri sebelum kita mencela mereka???

Sudahkah selama ini kita menanamkan aqidah atau iman yang kuat kepada TKW tersebut?

Ketika TKW itu masih memiliki aqidah yang sangat lemah, iman yang tipis, lantas kita cela mereka karena pergi tanpa mahram? atau kita paksa mereka untuk tidak boleh pergi tanpa mahram? Apakah ini yang dinamakan dakwah dengan hikmah? Padahal ada yang lebih utama untuk kita dakwahi kepada mereka, yang belum sampai kepada mereka, yaitu Aqidah atau Tauhid yang benar.

Disini bukan berarti ana membolehkan wanita pergi safar tanpa mahram, sekali-kali tidak! Ana tidak pernah mengatakan seperti itu, bahkan ana mengakui tentang larangan wanita safar tanpa mahram. Apalagi pemerintah kita dan pemerintah Saudi tidak memberikan persyaratan untuk wanita safar harus bersama mahram. Namun apakah kita mau menyamakan mereka dengan orang-orang seperti kita yang sudah lama mengaji, sudah memiliki aqidah dan iman yang kuat, yang lulusan SMA atau kuliah?? Bukan merupakan rahasia bagi kita, bahwa dari sekian banyak TKW yang keluar negeri, sangat banyak dari mereka yang tidak bisa baca dan tulis, ada juga yang hanya tamatan SD, bahkan sekolah SD pun banyak yang tidak lulus atau selesai.

A’isyah radhiyallahu ‘anha pernah mengomentari masalah ini dengan sangat mengagumkan, bahwa sesungguhnya yang pertama kali Allah turunkan adalah ayat-ayat mengenai Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baru setelah para sahabat kuat imannya, diturunkan ayat-ayat tentang halal dan haram. Lalu Aisyah berkata : Seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan engkau meminum khamer, niscaya mereka akan menjawab: kami tidak akan meninggalkan khamer selamanya. Dan seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan engkau berzina, niscaya mereka akan menjawabnya: kami tidak akan meninggalkan zina selamanya. (HR Bukhari no. 4609).

Dan sudahkah selama ini kita mensuplai dan memenuhi kebutuhan hidup mereka semuanya?

Ketika TKW itu dengan keterpaksaannya pergi keluar negeri demi memenuhi kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya seperti anaknya, adik-adiknya atau orangtuanya, lantas kita larang mereka untuk menjadi TKW? sedangkan kita tidak mampu untuk membantu mereka dan memenuhi kebutuhan hidup mereka, begitu juga dengan pemerintahan kita yang belum sanggup meringankan beban hidup mereka semuanya. Maka, darimana mereka akan memenuhi kebutuhan hidup mereka dan orang-orang yang menjadi tanggungannya? Disisi lain, mereka belumlah menjadi manusia yang memiliki aqidah yang kuat serta iman yang kokoh sehingga kesabaran dan ketawakkalan mereka belum seperti kita dalam menghadapi hidup ini. Jika kita belum mampu untuk mensuplai dan memenuhi kebutuhan hidup mereka, padahal mereka sangat membutuhkan bantuan kita agar mereka tidak menjadi TKW, maka cela diri kita terlebih dahulu sebelum kita mencela mereka…

Dari Humaid ath Thawil, dari Abu Qilabah diriwayatkan bahwa ia berkata, “Apabila ada kabar yg tidak mengenakkan dari saudaramu sesama muslim, carilah hal yg dapat memaafkannya sebisa kamu, kalau kau tidak dapati alasan yang tepat, katakan kepada dirimu sendiri, ‘Mungkin saudaraku ini memiliki alasan (udzur) yg tidak aku ketahui.” (Shifatush Shafwah, 1/754. Di nukil dari kitab Aina nahnu min akhlaqis salaf).

Setelah kita mencela diri kita sendiri, masihkah kita mau mencela negara-negara Arab yang telah banyak mengambil dan membantu saudara-saudara kita sebangsa untuk dijadikan pekerja mereka?

Jika kita masih berani mencela negara-negara Arab atau orang-orang Arab, maka sebelum kita mencela mereka, kita lihat perbandingan ini…

– Celaan : Negara Arab (khususnya Saudi) adalah pusatnya Islam, dan Islam berasal dari sana. Jika kenyataan seperti itu, kenapa banyak sekali orang-orang Arab yang menzhalimi, menyakiti, memperkosa, menghukum mati, dan merendahkan pembantunya? Padahal Islam tidak mengajarkan seperti itu?

Jawab : Jika memahami seperti itu, maka dia sama saja menuduh bahwa Islam itu tidak baik. Karena dia mengkaitkan bahwa Islam itu seperti negara Arab, jadi segala yang berasal dari negara Arab maka itulah Islam. Dan dia juga menuduh bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam juga tidak baik. Karena dia menganggap bahwa segala sesuatu yang berasal dari orang Arab adalah Islam dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah orang Arab.

Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang batil dan salah!

Lihatlah sejarah dan bukalah kitab-kitab hadits. Pada zaman Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup saja ada dari umatnya yang melakukan perbuatan yang zhalim dan maksiat, ada juga yang minum khamer, berzina, dan lainnya. Lantas dengan kejadian seperti itu lalu kita mencela dan menuduh bahwa Nabi Muhammad tidak baik dan tidak becus dalam mendidik umatnya? La hawla wala quwwata illa billah….

Jika ada sesuatu keburukan yang dilakukan oleh seorang muslim, maka bukan berarti Islam adalah buruk. Yang buruk adalah pelakunya atau individunya masing-masing, bukan keburukan itu lalu dinisbatkan kepada Islam. Begitu juga dengan negara Arab. Jika ada keburukan yang dilakukan oleh sebagian orang-orang Arab, maka negaranya tidak menjadi buruk karenanya. Dan tidak pantas kita mencela negara Arab dan orang-orang Arab secara keseluruhan hanya karena ada sebagian dari mereka melakukan keburukan. Seperti halnya kita mencela orang-orang suku Jawa semuanya adalah orang-orang musyrik, hanya karena ada dari sebagian orang yang bersuku Jawa melakukan kesyirikan di tempat tertentu. Wallahul musta’an.

– Celaan : Bukti nyata bahwa setiap berita yang sampai kepada kita tidak lain tentang kezhaliman dan penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang Arab kepada pembantunya atau TKW. Hal ini membuktikan bahwa orang-orang Arab itu buruk, kejam dan zhalim!

Jawab : Tahu dari mana anda bahwa setiap berita selalu berisikan tentang kekejaman dan kezhaliman orang Arab kepada pembantunya? Apakah setiap ada berita di Arab harus melapor dulu ke anda supaya anda bisa tahu semuanya? Atau anda sudah keliling negara Arab untuk mencari berita-berita tentang hal ini? Atau anda seorang dukun yang mengaku mengetahui berita yang ghaib?

Dari sekitar 2 juta TKI yang ada di saudi, ada berapa kasus penganiayaan yang terjadi, dari mulai siksaan, perkosaan s/d pembunuhan? Kemudian bandingkan dengan TKI yang tidak mendapat kasus, lebih banyak mana? Bahkan kasus-kasus yang pernah ada sejak dahulu sampai sekarang jumlahnya tidak mencapai setengah dari jumlah total seluruh TKI di Saudi, malah masih bisa dihitung jumlahnya.

Atau dengan hitungan waktu. Dalam sehari ada berapa kasus yang dialami oleh TKI di Saudi? Dan juga dalam sebulan ada berapa kasus? dalam setahun ada berapa kasus?

Kemudian bandingkan dengan jumlah TKI sebanyak 2 juta tersebut, atau yang sukses di Saudi. Lebih banyak mana? Dalam sebulan atau setahun saja kasus yang terjadi masih dapat kita hitung dengan jari, dan jumlah perbandingannya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan total TKI di Saudi.

Inilah ketidak adilan pada diri kita yang kita belum mampu untuk melihat dari segala sisi, dan kita hanya mampu melihat dari sebelah sisi saja yang kemudian menyudutkan sisi tersebut. Belum lagi ketidak adilan dari sumber berita yaitu media-media informasi. Yang mana mereka hanya mengekspos berita-berita yang bermasalah saja, sedangkan berita yang berisikan kisah-kisah yang positif maka tidak mereka ekspos, bahkan seandainya diekspos maka sangat sedikit sekali dibandingkan dengan berita yang bermasalah. Akibatnya masyarakat hanya mengetahui kejadian-kejadian yang bersifat negatif dan bermasalah saja.

Semoga dengan wacana ini kita mampu menjadi orang yang lebih adil, bijak dan selalu didasari sikap husnuzhan kepada saudara-saudara kita, terlebih-lebih untuk selalu bertabayyun dalam menerima segala berita yang sampai kepada kita. Semoga Allah memberikan ampunan kepada kita atas segala kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Begitu juga semoga Allah mengampuni dan membantu saudara-saudara kita yang terzhalimi serta membutuhkan pertolongan dan bantuan. Allahumma amiin.

oleh Abu Fahd NegaraTauhid pada 23 Juni 2011 jam 13:04

Tambahan :

Mungkin TKW tidak bisa disamakan secara keseluruhan, karena mereka punya latar belakang dan sisi kehidupan yang berbeda satu sama lain. Ana pernah bekerja di PJTKI (Perusahaan Jawatan Tenaga Kerja Indonesia) selama beberapa tahun di Jakarta, divisi Pasport (sekitar 12 tahun yang lalu). Jadi sedikitnya ana bisa mengenal sisi kehidupan para TKI, sejak masih di penampungan sampai di negara tempat mereka kerja.

Dinilai dari ketaqwaan, ada dari mereka yang rajin beribadah, menutup auratnya dengan hijab, rajin menuntut ilmu, hafizhah, dan istiqamah di atas agama-Nya -Masya Allah- (Bisa jadi mereka ini lebih mulia di sisi Allah daripada kita disini). Namun orang-orang seperti itu sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah TKW secara keseluruhan, yang mana mayoritas dari mereka adalah awwam terhadap agamanya. Karena banyak dari mereka yang tidak berhijab dan menampakkan auratnya, bahkan cara berpakaiannya sangat meprihatinkan sekali, melebihi artis-artis dangdut yang kita kenal. Selain itu juga mereka sangat minim sekali wawasan ilmu agama yang mereka miliki, jadi sangat sering kita jumpai dari mereka yang tidak shalat, bahkan banyak yang tidak bisa membaca Al Qur’an.

Dinilai dari ‘Iffah’ (menjaga kesucian), ini yang paling sering dibicarakan oleh orang-orang tentang TKW. Ada dari mereka yang sangat menjaga kesucian-kesucian dirinya, mereka menjauhi laki-laki yang tidak dikenalnya atau yang bukan mahramnya, ibarat mereka burung merpati yang setia. Namun sayangnya, burung merpati itu begitu langka kami jumpai dari sekian banyak burung (TKW). Karena sudah ma’ruf diketahui oleh orang-orang tentang banyaknya status TKW yang nakal-nakal, bahkan mereka sengaja menjual diri mereka sejak masih di penampungan. Suatu kejadian yang tidak pantas yang sering terjadi di kantor-kantor PJTKI atau penampungan-penampungannya adalah, jika kedatangan calon TKW yang cantik-cantik ke kantor-kantor mereka, maka TKW yang cantik itu akan dijadikan target sasaran dari para pria hidung belang yang ada di kantor-kantor maupun di penampungan-penampungan mereka. Ada dari TKW tersebut yang menerima dan melayani ajakan laki-laki hidung belang itu (mereka tidak lain adalah oknum karyawan sendiri atau bawaan dari orang dalam), namun TKW-TKW yang menjaga kesucian dirinya akan menolak tawaran atau godaan laki-laki tersebut, bahkan mereka berani marah atau siap menerima resiko di cancel keberangkatan mereka. Jadi kita bisa mengambil kesimpulan untuk TKW-TKW yang nakal itu, jika masih di negaranya saja (di kantor dan di penampungan) mereka berani berbuat seperti itu (Asusila), bagaimana halnya di tempat dia kerja nanti?

Ana pribadi pernah mendengar pengakuan dari salah seorang TKW yang ‘nakal’, kenapa dia mau ‘melayani’ majikannya disana? TKW tersebut menjawab, banyak kelebihan yang didapat dari melayani orang Arab/majikannya dibandingkan dengan melayani orang kita, antara lain:
Bayaran yang di dapat dari majikannya jauh lebih besar dibanding bayaran yang didapat oleh orang kita, bahkan selain bayaran rutin, majikannya jadi sering memberinya hadiah-hadiah. Makanya ana perhatikan, TKW-TKW nakal tersebut lebih cepat kaya dibanding TKW-TKW yang biasa. Bandingkan saja, dalam tempo 2 tahun bekerja sebagai TKW yang gajinya berkisar antara 600 s/d 800 riyal perbulan (1 riyal sekarang sekitar Rp.2500), mereka bisa membangun rumah yang sangat besar di negaranya, mensuplai keluarganya setiap bulan, serta memiliki perhiasan-perhiasan emas yang sangat banyak. Bahkan gelang emas yang dimiliki dan dipakainya saja sampai memenuhi tangannya dari pergelangan tangan sampai sikut!

Kelebihan yang lain adalah, fisik yang dimiliki oleh orang Arab atau majikannya jauh lebih bagus daripada fisik yang dimiliki oleh orang kita. Katanya, jika melayani orang kita paling-paling wajahnya tidak jauh beda dengan wajah-wajah kuli (hidung pesek, hitam, pendek, dll), berbeda sekali jika melayani orang Arab, seperti halnya melayani artis terkenal dengan wajah yang tampan, hidung mancung, putih dan postur yang tinggi dan gagah. Jadi walaupun saya tidak dibayar, tapi saya merasa menikmati. -Wal iyadzubillah-

Dinilai dari pendidikan, ada juga dari mereka yang berpendidikan tinggi,lulusan universitas dan memiliki title sarjana atau D3. Kecuali untuk tenaga-tenaga ahli maka tidak heran jika mereka adalah orang-orang yang bertitle dan berpendidikan tinggi. Namun untuk pekerjaan pembantu, lebih mendominasi dari wanita-wanita yang tidak atau kurang pendidikannya, walaupun ada dari mereka yang juga berpendidikan tinggi tapi itu jarang. Kami sering menjumpai TKW-TKW yang tidak dapat membaca dan menulis. Kami bisa mengetahuinya karena pekerjaan kami yang selalu beradaptasi dengan mereka. Hampir setiap hari kami bertatap muka dan menginterview mereka, bahkan dalam sehari bisa mencapai ratusan orang yang kami interview jika ada permintaan pengiriman TKW ke Saudi. Banyak juga dari mereka yang tidak bisa tanda tangan, sehingga kamilah yang harus menandatangani berkas-berkas atas nama mereka.

Dinilai dari ekonomi, ada dari mereka yang berasal dari keluarga yang mampu, dan berkecukupan. Namun faktor lain yang menyebabkan mereka harus menjadi TKW adalah bukan karena ekonomi, mereka masih memiliki kemampuan dalam harta, namun ada masalah-masalah pribadi yang tidak ketahui. Bisa jadi mereka memiliki kasus pada rumah tangga mereka atau di daerah mereka tinggal atau juga di negara mereka, sehingga mereka menjadi TKW untuk menghindar dari kasus tersebut. Dan banyak faktor-faktor lainnya. Ana pernah heran kepada salah seorang teman ana yang sudah berusia matang. Dia kerja di Saudi menjadi TKL sudah sekitar 10 tahun dan tidak pernah pulang ke negaranya, padahal dia memiliki keluarga disana, anak dan istrinya. Bukan karena dia tidak diperbolehkan pulang oleh majikannya, kalau dia mau pulang setiap 2 tahun sekali bisa dan diizinkan oleh majikannya. Namun ana berprasangka ada faktor lain dibalik itu dan ana tidak berani su’uzhan kepadanya. Adakah seseorang yang sanggup menahan rindu kepada anak-anaknya dan istrinya selama 10 tahun tidak berjumpa dengannya?

Namun dari sekian banyak TKW yang bekerja keluar negeri, lebih mendominasi dari keluarga yang tidak mampu atau kekurangan. Makanya banyak ditemukan dari mereka janda-janda, ibu-ibu, atau gadis-gadis yang memiliki banyak tanggungan untuk keluarganya. Jika mereka harus mencari pekerjaan di negaranya sendiri, maka mereka juga tetap akan safar keluar kota, karena di tempat mereka tinggal tidak tersedia lahan untuk bekerja. Ana banyak melihat para TKW itu berasal dari kampung yang berada di pelosok-pelosok daerah dan sulit dijangkau dengan mudah, harus masuk keluar hutan atau gunung. Sedangkan di daerah mereka yang tersedia hanya bertani, itupun sudah diambil alih oleh sebagian laki-laki disana dan tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup mereka di kampung tersebut, sehingga banyak penduduknya yang merantau keluar kota atau menjadi TKI.

Itulah sebagian sisi kehidupan TKW yang bisa ana nilai sesuai dari apa yang telah ana ketahui selama ini, sejak ana kerja di PJTKI sampai ana saksikan secara langsung kehidupan mereka di Saudi. Masih banyak sebenarnya sisi kehidupan mereka yang tidak kita ketahui, dan hanya Allah yang mengetahui rahasia-rahasia mereka, kenapa mereka menjadi TKW. Mereka tidak lain adalah saudara-saudara kita seagama. Selama kita bisa mencarikan alasan yang baik untuk mereka dan berhusnuzhan kepada mereka maka lakukanlah semampu kita, karena mereka termasuk kaum dhu’afa atau orang-orang yang lemah, yang perlu kita bantu dan perhatikan. Jika kita tidak mampu membantu mereka dengan harta agar mereka tidak menjadi TKW -kecuali jika mereka bersama mahramnya-, maka kita bantu mereka dengan doa.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s