Berdiri Diujung Taqdir

Posted: March 15, 2014 in Puisi

Sebelum semua lorong tak lagi memantulkan gema, sebelum kesia siaan mengirim berjuta sesal, sebelum segala sesal menahtakan luka di batin, sebelum lukanya menjadi diam, diam menjadi azab, azab mengundang guntur, guntur memuntahkan amarah, amarah melepas anak panah, anak panah membidik sasaran, menggores luka dimana mana, luka dikepala, luka didadam luka di kaki, dan ini yang paling perih luka dihati, luka yang diam.

Ketika hawa nafsu membongkah menjadi badai, menyerbu dan menyapu apa saja, menjadi gelombang pasang, menerkam dan menenggelamkan apa saja, dan menjadi air bah, menyeret dan menghanyutkan apa saja, diam telah kehilangan maknanya, ketika diam berubah menjadi gayut kegelapan lalu jatuh menimpa atap atap bangungan moralitas, merobohkan sendi sendinya, membulodser asasnya, dan menimbun eksistensi kita dalam puing puing yang bisu, diam telah keluar dari maknanya.

Hari ini ana bahagia luar biasa, Masya Allah, seorang sahabat ana kembali shalat setelah sekian lama ia menjauh dari ALLAH, setelah sekian lama jiwanya kering dari nama ALLAH, setelah sekian waktu berlalu dia tak lagi merasakan sejuknya air mengalir menyapu wajah, meruntuhkan dosa dosa, insya ALLAH. Setelah sekian lama kerontang hatinya, setelah hampir terlupa bahwa apa apa yang dimilikinya karena ALLAH, setelah sekian kisah dijalani dan ditengah keramaian masih terasa sepi, kita dia kembali, kembali wudhu, kembali sujud, kembali ruku, sujud yang meluruhkan seluruh beban dipundaknya yang kian terasa berat, sujud yang menunjukan hati, meluruhkan sombong.

“fian, setiap kita lahir bersih, harusnya kita juga pulang bersih ya gak, maksud gue setelah dibersihkan dari segala dosa, seharusnya kita tahu bahwa kita sebetulnya tak memiliki apa apa, semua milik ALLAH, dariNYA”

Ana hanya tersenyum membiarkannya berbicara, antara percaya tidak percaya laki laki yang tampilannya kusut ini mampu berbicara bak ahli dakwah, dan ana mulai memutar otak karena apa yang dikatakannya benar meski datang dari seorang yang selama ini ana kenal tidak mau shalat, setiap kali ana ajak shalat jawabannya adalah “dulu kecil gue udah shalat, sekarang belum perlu lagi” hadeh…manusia aneh.

Kemudian untuk mengakhiri rasa penasaran ana atas perubahan pada diri sahabat ini, ana mulai bertanya “kenapa sih koq tiba tiba mau shalat?” dan jawabannya sungguh menyejukan hati,

“ALLAH ada dimana mana kan, DIA mengawasi apa yang gue lakukan, apa yang gue ucapkan, apa yang gue ambil dan apa yang gue beri”

Ah..seandainya setiap kita berpikir seperti sahabat ana mungkin tempat tempat maksiat itu sepi, mungkin narkoba tak beredar, mungkin Menkoinfo tak perlu repot repot teriak untuk menutup situs porno, mungkin masjid akan ramai…

“Dan DIA bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al Hadid : 4). Maha Benar ALLAH dengan segala firmanNYA …

Dan rasanya memang sudah saatnya kita menyadari bahwa ALLAH itu ada, dekat dengan urat leher kita, masih belum adakah rasa takut dihati kita untuk menjauhi dosa dosa? dan cukuplah hidup yang singkat ini kita isi dengan hal hal yang diridhoi ALLAH saja. Bukankah kita semua tahu bahwa napas kita PASTI akan berhenti bukan?

Lalu kenapa dong masih saja bergunjing, masih saja menghina, masih saja mengejek, masih saja menghibah, masih saja sombong, masih saja cinta dunia hingga lupa mati, masih gak mau shalat, masih gak malu sama ALLAH yang melihat kita bermaksiat padahal segalanya sudah diberi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s