Cahaya Itu Bernama Maaf

Posted: March 15, 2014 in Puisi

Kemarin ana mendengar kalimat ini dari sahabat ana,

“dia yang salah mustinya dia dong yang minta maaf, bukan gue, gengsi lah, biar dia ngerti kalo dia salah, jadi dia yang harus minta maaf, gengsi tahu“

Kalimat yang terdengar logis jika dimasukan kedalam logika normal untuk otak manusia yang isinya gengsi ini kemudian ana berpikir apa sulitnya minta maaf, meski mungkin bukan kesalahan kita perselisihan itu terjadi atas nama ALLAH bukankah kita harus saling memaafkan.

“gak bisa dong, biar ada sedikit salah gue salah kan gengsi dong minta maaf duluan”

Subhanallah, dan sahabat ana rela menukar kasih sayang ALLAH dengan gengsi. Nauzubillahimindzalik. Semoga kita tak seperti sahabat ana dan semoga ALLAH memberi kita kekuatan untuk memaafkan, memberi kekuatan untuk minta maaf.

Mungkin sahabat ana ini tidak merasa memiliki kesalahan, andil salah atau apapun namanya atas perselisihan dengan sahabat yang lain. Berpikir bahwa orang lainlah yang sepantasnya datang kepada dirinya dan minta maaf padahal ALLAH sangat pemaaf, sangat pengampun, apa kita sebagai manusia tidak malu ketika ALLAH yang memiiki segalanya saja memaafkan lalu kita yang hanya debu rela menukar ridho ALLAH dengan satu kata bernama “gengsi” padahal FORGIVE It’s really better for our heart, ketika kita mampu melepaskan diri dari perasaan marah dan dendam, maka hidup akan sangat tenang, karena kita telah berada di rel yang benar, rel yang sama dengan rel ALLAH yaitu memaafkan.

Tidak ada yang salah dari sekedar berkata maaf, tidak ada harga diri yang tercabik cabik dari membalas kalimat maaf seseorang, tidak akan menghilangkan kebahagian dengan berbagi MAAF, tidak ada yang hilang!

“Gue gak bales ucapan maafnya dengan harapan orang itu sadar bahwa dia salah, biar dia terhukum”

Bro, kita memang berhak sakit hati setelah dilukai, tapi bukan hak kita untuk menghukum orang itu kan? Kita bukan ALLAH, apa jadinya kalau hak ALLAH kita ambil dengan sok membalas menyakiti, dengan mengirim doa yang tidak baik, dengan terus terusan menoreh luka agar kita merasa seimbang dong sakitnya, apa ada artinya lagi saling bakar model gini? Mau sampai kapan saling lempar belati? Apa tidak sebaiknya saling memaafkan dan jika memungkinkan saling melupakan luka, mungkin terlalu berlebihan jika harus bersahabat lagi dalam waktu dekat, tapi tidak berlebihan kan ketika harus memaafkan dan setidaknya tidak menorehkan luka baru saat luka lama belum sembuh.

Ana mulai tidak mengerti jalan pikiran sahabat ana yang terus saja membuka dan mengorek luka lamanya dibanding harus membalas permintaaf maaf orang lain.

Jiwa ana berontak dengan tanggapan sahabat ana, perkataan sahabat ana yang akan memberi pelajaran dengan menunda membalas maaf, menurut ana hanya untuk memuaskan keinginan diri sendiri, egoisme seorang manusia yang belum mampu membedakan mana luka dan mana kasih sayang, bukankah secara sadar maupun tidak, manusia itu punya kecenderungan untuk merasa puas jika ia berhasil mempengaruhi orang lain. “needs of power” = Keinginan untuk dituruti.

Waktu akan menyembuhkan luka hati, biar waktu yang bicara. Terdengar bijak dan hebat. Waktu memang akan memulihkan semua kebencian, amarah bahkan dendam, hanya JIKA DIAWALI dengan kesediaan untuk membuka diri dan hati, untuk mau memaafkan.

Waktu tidak akan membuat hubungan menjadi pulih tanpa adanya kesediaan untuk memaafkan. Waktu hanya akan mengorek luka semakin dalam dan membuat semua perasaan semakin tak karu-karuan. Jadi jangan pernah berpikir bahwa waktu cukup untuk menyembuhkan. Kesediaan untuk memaafkan, itulah yang pertama-tama harus ada. Bukan sekedar mengharap waktu akan bicara, waktu adalah benda mati jika tidak ada kata maaf dan memaafkan.

Hapus amarah sahabatku, maafkan dia meski tak berbalas pernyataan maafmu biarlah, biarlah dia tak membalas pernyataan maafmu tapi dimata ALLAH you are a winner of your own soul.

Semoga suatu hari nanti ALLAH membukakan hati nuraninya untuk datang sekedar membalas permintaan maafmu. You did the right things untuk keep on forgiving.

Belajar dari sahabat ana, malam kemarin ana berpikir, semoga kita diberi kemampuan untuk memaafkan … untuk meminta maaf. Jangan biarkan kita menyesali di akhirat nanti karena tidak mampu mencium bau syurga hanya karena kita tidak mampu memaafkan, dan jangan biarkan sahabat kita tidak sanggup berada di antara wangi syurgaNya karena tidak membalas permintaan maaf kita.

Setiap lorong gelap pasti berujung cahaya, dan cahaya itu bernama MAAF.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s