Hati Hati Bicara Soal Agama Dengan Akal Dan Perasaan Semata.

Posted: March 15, 2014 in Akhlaq

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, tidak akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al Ahzaab : 36)

“…. .Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An-Nuur : 54)

“… Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (an-Nuur : 63)

Demikianlah Allah menyatakan dalam ayat-ayat di atas bahwa tidak ada pilihan lain bagi hamba, kecuali taat kepada apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Beriman jika berupa berita dan mengamalkan jika berupa perintah. Kemudian, menyatakan bahwa jalan hidayah adalah mentaati Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan mengikuti sunnahnya.

Sebaliknya, bila menentang perintah dan membantah sunnahnya merupakan jalan fitnah yang akan mengakibatkan adzab yang pedih.

Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Biarkan aku dengan apa yang aku tinggalkan ! Sesungguhnya, hancurnya orang-orang sebelum kamu karena banyaknya perselisihan (protes) kepada nabi-nabi mereka. Maka apa yang aku larang, tinggalkanlah dan apa yang aku perintahkan, kerjakanlah semampu kalian. (Riwayat Bukhari)

Oleh karena itu, tidak ada hak bagi siapa pun untuk membantah sunnah dengan ra’yu (ilham) yang muncul dari perasaan atau pikirannya.

Diriwayatkan dari salafu ash-shalih, yakni para shahabat, tabi’in dan para pengikutnya, tentang pengingkarannya terhadap ucapan yang berdasarkan ra’yu. Yaitu, ucapan yang bersandar kepada pendapat pribadi yang munculnya dari akal atau perasaannya. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallaahu ‘Anhu, beliau mengatakan :

“Aku tidak meninggalkan sesuatu pun yang dikerjakan Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam kecuali aku mengerjakannya. Sesungguhnya aku khawatir kalau aku meninggalkan sesuatu dari perintahnya aku akan tersesat.:” (sebagaimana dalam Ta’dzimu as-sunnah, Abdul Qayyum ash-Syaibani, hal. 24, dari al ibanah Ibnu Bathah).

Beliau mengucapkan demikian, karena memang Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat an-Nuur ayat 54 :

“…Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.”

Maka jika tidak mena’atinya dikhawatirkan akan tersesat, dan akan tertimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih (lihat surat an-Nuur : 63).

Demikianlah sikap yang telah ditunjukkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallaahu ‘Anhu, sebagai sebaik-baik manusia setelah nabinya. Beliau tidak berani meninggalkan satu perintah pun dari Nabinya Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan tidak berani membantahnya dengan pendapat, akal atau perasaannya.

Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallaahu ‘Anhu : ‘Bumi mana yang akan aku pijak, dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku berkata tentang ayat dari kitab Allah dengan ra’yuku atau dengan apa yang aku tidak tahu.’ Dan sesungguhnya yang namanya ilmu adalah apa yang diucapkan oleh Allah dan Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

Setelah itu barulah ucapan salafu ash-shalih (pendahulu kita yang shalih) sebagai penjelas (pemahaman dari keduanya). Adapun ra’yu yang munculnya dari akal atau perasaan adalah zhan (prasangka) yang belum tentu kebenarannya.

Umar bin Khattab Radhiyallaahu ‘Anhu berkata ketika beliau di atas mimbar :

“Wahai manusia, sesungguhnya ra’yu (yang benar) hanya dari Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Sesungguhnya Allah memperlihatkan kepadanya. Adapun (ra’yu) dari kita adalah zhan (prasangka) dan takalluf (membuat-buat).”

Ibnul Qayyim berkata bahwa yang dimaksud oleh Umar Radhiyallaahu ‘Anhu, adalah ayat Allah :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu (dengan ra’yu yang Allah berikan kepadamu) …. (an-Nisa’:105)”.

Maka tidaklah beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam mempunyai pendapat, kecuali pendapat yang Allah berikan dan memperlihatkan kepadanya. Adapun selain dari beliau merupakan zhan dan takalluf. Sedangkan firman Allah :

“…Sesungguhnya prasangka itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran …. (Yunus:36)

Maka bagaimana pendapat anda dengan orang yang menolak hadits shahih dengan ra’yunya, membantah hadits dengan perasaannya dan mengatakan : “Saya memilih ucapan guru saya atau doktor kafir dari pada hadits shahih Bukhari.” Yakni, ketika berbicara tentang lalat yang salah satu sayapnya mengandung penyakit dan sayap lainnya sebagai obat !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s