Jika Esok Tiada Lagi

Posted: March 15, 2014 in Puisi

Setiap kali terbangun di pagi hari, ana selalu mengucap “Alhamdulillah, hari ini ALLAH masih menitipkan napas di jiwa ana” dan “Alhamdulillah bahwa semua masih seperti ketika ana tinggal hendak tidur semalam“, bantal ini masih ada, kamar ini belum berubah menjadi makam yang gelap dan jendela disudut kamar masih ada, yang ketika ana buka akan terasa hembusan angin dingin menyapu wajah ana (menghayal.com) ah sungguh nikmat ALLAH yang manakah yang hendak kita pungkiri ketika kita masih bisa menikmati napas ini dan melihat kaki kita masih berpijak dibumi ALLAH.

Lalu masih patutkah kita mengeluh tidak punya ini dan tidak diberi itu oleh ALLAH, sementara kita lupa bersyukur bahwa kita tidak terbangun di dalam makam yang gelap dan tidak dibangunkan oleh malaikat yang hendak meminta buku catatan kelakuan kita selama tinggal di bumi ALLAH. Iya engga?

Iya, masih berani apa kita mengeluh? sangat tidak sopan ketika kita mengeluh sama ALLAH tentang mimisan yang gak berhenti sementara ALLAH memberi kita mata indah yang sempurna melihat pagi, kaki yang bisa berjalan kemasjid, tangan yang bisa melakukan pekerjaan, mulut mungil yang bisa makan, ah sangat gak pantes dan gak sopan sama ALLAH kalau kita mengeluh tentang kehilangan demi kehilangan yang lain kan.

“Belajar mensyukuri yang sedikit yang kita miliki“

Kalimat yang indah, udah merasa ALLAH gak sayang, bandingkan dengan jantung yang berdetak didalam, paru paru yang mampu menarik oksigen dan hati yang penuh gelombang kerinduan, indah kan? STOP NGELUH, ALLAH gak butuh keluhan kita, bahkan gak butuh ucapan terima kasih karena DIA maha kaya, jadi gak guna tuh ngeluh !!

Lalu pernahkah kita membayangkan ketika esok tidak datang untuk kita, kita tertidur panjang dan dibangunkan oleh malaikat yang hendak meminta pertanggung jawaban kita, pasti akan banyak sekali pertanyaan dibenak kita saat itu dan kita tidak mungkin lagi kembali ke bumi ALLAH nan indah ini, bukankah menyesal diakhirat adalah sebuah kesia sian bukan?

Jika hari esok tak pernah datang lagi, tak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk meminta ampunan atas lautan dosa yang belum sempat terhapus hari ini, kemarin, sepekan yang lalu, setahun lalu, dan bertahun-tahun yang lalu. Bayangkan bagaimana jika ALLAH tak berkenan membukakan mata kita setelah sepanjang malam tertidur? Bagaimana jika tulisan ini adalah tulisan terakhir kita di fb ini, karena esok kita tak lagi dititipi napas, udah minta maaf belum kita atas kata yang terangkai salah, atau mungkin melukai seseorang? ehem, dalem …

Ketika esok harinya ruh ini melihat seluruh keluarga, sahabat sahabat kita, menangisi jasad kita yang terbujur kaku berkafan putih, pernah terpikir gak? Bekal amal apa yang sudah kita tabung selama ini jika esok tak datang lagi? Sementara shalat kita masih sekedar menjalankan kewajiban, dzikir kita belum langgeng, jilbab (bagi yang memakai) pula masih kadang dibuka tutup, kadang masih bergunjing, kadang masih bercanda tanpa tahu apakah sahabat kita tersinggung, kadang ini dan kadang itu.

Bagaimana jika matahari esok tak lagi dapat kita lihat karena kita telah masuk ke liat lahat, padalah masih ada janji yang belum sempat kita tepati, masih belum sempat meminta maaf kepada orang-orang yang mungkin pernah tersakiti hatinya oleh lidah dan tindakan kita, sudahkah kita meminta keikhlasan mereka atas semua yang tak mampu kita penuhi, atas ketidak mampuan kita membuat mereka bahagia, dan kita telah menyakiti mereka tanpa sempat meminta maaf. Ya ALLAH.. tak sanggup membayangkan seberapa lama hisab kita dijembatan sirotol mustaqim ketika maaf belum terucap apalagi dimaafkan oleh mereka yang mungkin kita lukai hatinya dan janji janji dengan orang tua yang belum kita penuhi, janji janji dengan kekasih yang belum sempat terwujud tapi napas tak lagi dititipkan.

Nauzubillahimindzalik…

Mulai pagi ini yok kita ucapkan “Alhamdulillah” atas nikmat esok yang masih menjadi milik kita dan sambung silaturahim agar tak ada luka yang akan kita tinggalkan jika esok tak akan datang lagi untuk kita dan maafkan ana jika esok ana tidak lagi mampu menulis disini, barangkali ALLAH mensudahi esok untuk ana…(menahan sakit)

Dan sejuta tanya ketika esok tak datang, sudahkah kita memenuhi janji janji kita dan meminta keikhlasan untuk meridhoi ketika ajal kita tiba dan kita ternyata belum mampu membayar hutang janji, sudahkah kita mengeluarkan hak fakir yang ada didalam gaji kita sebelum kita menabung, sudahkah kita meminta maaf kepada orang orang yang mungkin pernah kita dzalimi, sudahkah kita meminta keridhoan orang tua atas segala cinta yang begitu indah untuk membesarkan kita, dan sudahkah kita memohon ampunan dengan bersungguh sungguh kepada ALLAH atas segala dosa dosa?

ah ternyata ana BELUM siap ketika esok tidak lagi menjadi milik ana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s