Di Dalam Diam.

Posted: March 16, 2014 in Puisi

Coretan ini ana tulis di diari ana, ntah apa yang ana rasakan saat itu, ana insomnia amnesia untuk mengingatnya, dan tak perlu diingat lagi memang, mengingat yang lalu kan hanya akan menyesakan dada. Yang ana tahu saat itu ana ingin diam ditengah keramaian, diam bak samudera yang tenang, bak danau yang hening, mari diam dan renungkan catatan ana.

Kata orang bijak “Kebenaran itu bukan untuk dipelajari, melainkan ditemukan” karena semua teori nampak benar, jarang ada teori salah, namun ketika teori menjadi aplikasi, mulai terjadi try and error, maka pertanyaan ana selanjutnya adalah: “Di mana mencarinya? iya dimana mencari kebenaran itu” and talking about life, bicara tentang hidup maka jawabnya adalah “Di dalam diam! kebenaran hanya bisa ditemukan dalam diam, dan ana menemukannya” Sebab, di dalam diam itu ana bisa berbicara dengan hati.

Seberapa sering kita bertanya “apakah ini benar, apakah itu salah?” dan jawabannya selalu kita temukan ketika kita hening dan diam, tak perlu curhat sana sini, tak akan kita temukan disana, karena kebenaran ada dalam hati nurani.

Manusia sering mempertunjukkan kekerdilan diri karena tidak mau diam. Mulut nyerocos, semakin banyak bicara semakin terkuak aib aib kita yang sudah ALLAH tutupi, kita buka lebar lebar, atau bicara tapi tidak nyambung antara keinginan hati dan paparan mulut. Berbuih-buih sudah mulut berkoar isinya dusta, akhirnya kebohongannya terkuak dan sulit ditambal jika sudah terkuak… aib tersebar dan kemuliaan kita sebagai manusia terkikis.

Itu karena kita dan manusia lain kurang merenung, kurang “diam“.  Ana jadi ingat pesan guru ana jika terus bicara maka hati tak lagi peka mendengar “suara” orang lain karena tersumbat oleh suara sendiri.

Karena bila kita tak mampu memahami masalah sendiri dengan dalam, bagaimana bisa memahami orang lain? Maka, yang muncul kemudian adalah menyalahkan, menyikut, mempermalukan, membodohi, dan menipu orang lain. Kita jadi licik, oleh karena itu, yang penting bagi kita, kerjakanlah apa-apa yang baik bagi kita dan bukan yang baik menurut mereka, sembari kita serahkan jiwa raga kita pada ALLAH. Manusia itu sesungguhnya adalah gurunya sendiri; di dalam dirinya sendiri terdapat rahasia keberadaannya.

Ketika kita mencela dan menghakimi seseorang: mengapa repot-repot mencela dan menghakimi? Bukankah setiap perbuatan adalah tanggung jawab kita sendiri dan kita tidak harus bertanggung jawab terhadap perbuatan orang lain? Daripada membuang-buang tenaga untuk mencela dan menghakimi, menuding ke sana kemari, mengapa tidak duduk diam dalam hening, mengamati napas dan kesejatian kita, untuk memupuk kebajikan dan kebijaksanaan dalam diri.

Lidah adalah salah satu kenikmatan yang besar yang dianugerahkan ALLAH kepada manusia, padanya terdapat kebaikan yang banyak dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang menjaganya dengan baik dan bahaya yang besar bagi siapa yang meremehkannya (membiarkannya) lalu digunakannya pada jalan atau tempat yang tidak semestinya.

Iya, ketajaman lidah mengalahkan ketajaman pedang yang mampu membelah besi dan daya penghancur (rusak)nya sangat kuat mengalahkan cuka dalam merusak madu yang manis. Cara menyelamatkan diri dari bahaya lidah adalah diam, Diam Itu Emas Dalam upaya mendewasakan diri kita.

Maka sekali-sekali diam dan merenunglah. Diam itu BIJAK, namun sedikit sekali orang yang melakukannya…mungkin termasuk ana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s